#30harimenulis 26 Free In Peace

Mataku terbuka di pagi yang hening dan indah. Aku terduduk di ranjang mencoba mengumpulkan nyawaku, tapi tak ada apapun disana. Kakiku menelusuri permukaan tak rata lantai kayu yang dinginnya khas. Kemudian aku membuka pintu menuju balkon yang menghadap ke hamparan sawah berundak-undak. Kabut sejuk menyapa mata dengan cantiknya. Lalu aku teringat bahwa malam sebelumnya aku mengalami kesulitan bernafas, sendirian, meronta-ronta dikamar. Karena lagipula tak ada siapapun lagi di rumah selain asisten rumah tangga yang biasa in charge di rumah sesiangan. Setelah berjuang mencari-cari peluang sekecil apapun untuk menyambung nafas, kupikir kenapa aku tak mencoba menyerah saja? Pada akhirnya aku melepas … Lanjutkan membaca #30harimenulis 26 Free In Peace

#30harimenulis 20 Every Night

Setelah menikah kami pindah rumah dengan ukuran sedang berkamar dua. Aku memaksudkan satu kamar utama (tentu saja) untuk kami tidur berdua, dan kamar lainnya untuk ruang kerjaku. Kerepotan pindah dan menata rumah hanya berlangsung dalam dua hari yang padat. Hari ketiga semua sudah tampak rapi; ruang tamu hanya digelar karpet dengan beberapa bantal santai, ruang TV sudah dilengkapi sofabed dan meja pendek, kamar tidur sudah berkasur dan berlemari, ruang kerja didiami satu set komputer diatas meja kantor yang kaku dan ada juga dua bean-bag berwarna mencolok, sementara dapur dan kamar mandi aku cukupkan saja begitu adanya. “Apa kita ngga berlebihan … Lanjutkan membaca #30harimenulis 20 Every Night

#30harimenulis 11 H-37

H-37 menuju hari besar pernikahanku dengan Prana. Kekasihku selama satu tahun belakangan ini. Seharusnya aku sedang merasakan kebahagiaan yang membuncah, bukan? Alih-alih bahagia, aku sedang merasakan amarah yang memuncak! Barusan saja, ketika aku berniat mencari udara segar dengan membawa pekerjaanku untuk dikerjakan sambil minum kopi di cafe favoritku, aku mendapati Prana sedang berjalan didepan cafe -didepan mataku- bergandengan tangan mesra bersama seorang perempuan. Aku tiba-tiba teringat akan perkataan teman kerjaku yang pernah memperingatkanku tentang Selly, sahabatku. Tanto bilang “Entah kenapa ya gw koq ngerasa lu mesti hati-hati sama Selly itu, Bil”. Aku mengerutkan kening, Tanto juga sahabatku, tapi dia tidak … Lanjutkan membaca #30harimenulis 11 H-37

Lotta

Buku ini, adalah salah satu buku cerita pertama yang gw punya saat gw masih kecil bahkan sebelum gw bisa baca. Setelah bisa baca, buku ini dibaca berkali-kali sampai hancur secara fisik dan tak lagi layak buat disimpan yang pada akhirnya terpaksa dibuang. Beberapa waktu lalu tiba-tiba gw keinget dan kangen sama karakter si badung Lotta lalu langsung searching barangkali ada yang jual. Thanks to google and tokopedia yang dengan sangat mudahnya memudahkan keinginan gw. Walopun bekas, tapi masih sangat layak dibaca dan disimpan 😊 Pertama kali ngebuka halaman-halamannya menyeruak bau khas buku tua yang mengembalikan banyak memori masa kecil gw. Senangnya ngga ternilai. 😊 … Lanjutkan membaca Lotta

Gaby & Kevin #30HariMenulis Hari ke-29

Gaby: Gaby gadis pemberani. Tak ada hal apapun dan siapapun yang mampu membuatnya sekedar terkejut. Apalagi takut. Hingga hari itu. Hari pertama ia melihat Kevin mati. Kevin mati. Akibat ulahnya sendiri.   Gaby memandang tubuh Kevin yang terbujur kaku tidak bergerak, wajahnya memancarkan kengerian, dia tidak menyangka bahwa trik sulap yang dilakukan oleh Kevin membuat nyawanya terenggut, trik yang dipersiapkan oleh mereka berdua dengan cukup lama dan teliti ternyata berakibat fatal, baru kali ini Gaby merasakan ketakutan dan kehilangan keberanian, dia hanya berdiri mematung, pikirannya kosong. ****** Musik techno mulai terdengar menghentak-hentak dari speaker yang sepertinya di stel dengan volume … Lanjutkan membaca Gaby & Kevin #30HariMenulis Hari ke-29

Here, I’ll tell you things #30HariMenulis Hari ke-28

This is interesting!   ***   Aku dipertemukan dengan Frani di suatu perkumpulan pelatihan menulis. Sejak awal aku tahu anak ini lebih special dari anak-anak seumurannya. Oh, saat kubilang anak,  maksudku tidak sekecil itu. Aku kala itu berusia 31 tahun dan Frani 21 tahun. Ia gadis yang bersemangat, cerdas dan sedikit tomboy. Sewaktu mengikuti pelatihan menulis, aku bisa melihat kobaran ambisinya begitu berapi-api untuk mengejar cita-citanya.   Suatu hari setelah workshop mingguan, Frani mengajakku untuk hangout di sebuah cafe sebelum pulang. Menimbang-nimbang waktu yang akan kami habiskan, kurasa masih bisa aku mengulur waktu pulang. Ia menumpang motorku dan kami memilih … Lanjutkan membaca Here, I’ll tell you things #30HariMenulis Hari ke-28

My Summer We’ve Spent #30HariMenulis Hari ke-26

Aku sudah memutuskan untuk menghabiskan liburan musim panas di Indonesia. Aku sedang sedikit bosan dengan liburan musim panas yang hampir selalu dihabiskan di pantai, berapi unggun sambil minum-minum dan berpesta. Aku sedang haus akan pengalaman baru. Dari New York aku pergi sendiri ke Indonesia yang beda 12 jam. Sendirian dari sini tapi disana sudah ada teman yang akan menemani. Namanya Nadya, kami bertemu tahun lalu ketika kami sama-sama sedang melancong di Australia. Kami memutuskan untuk bertemu kembali tapi di negara masing-masing. Kali ini di negaranya, mungkin tahun depan atau lain kali aku yang akan jadi tuan rumah untuk Nadya.   … Lanjutkan membaca My Summer We’ve Spent #30HariMenulis Hari ke-26

Lala dan Dudu #30HariMenulis Hari ke-23

Matahari sudah terbenam, pencahayaan dibantu lampu-lampu taman. Dua sejoli yang baru saja jadian mengendarai motor. Sang pengendara kemudian menghentikan laju kendaraannya di sisi taman alun-alun Cimahi. “Disini aja A?” kata Lala sang pujaan hati agak heran. “Iya, disini aja, enak kan tempatnya? Lampunya kuning jadi kerasa hangat.” Dudu mencoba romantis. “Ngga ah, tetep dingin.” Sahut Lala polos sambil merapatkan jaket. Ia turun dari motor, diikuti Dudu yang lalu mengeluarkan borgol dari tas selempang kecilnya. “Eh, mau ngeborgol siapa, Aa?” Lala sontak kaget. “Ini buat Aa” dengan santai Dudu memborgol dirinya sendiri dan lubang satunya lagi dikaitkan ke stang motor bekjul … Lanjutkan membaca Lala dan Dudu #30HariMenulis Hari ke-23

Alice & Ashley #30HariMenulis Hari ke-16

Alice tidak bisa menahan kedatangan Ashley. BRAK! Pintu Alice terbuka lebar tanpa ada perlawanan. “Aku sudah cukup sehat. Sudahlah.” “Haha… kau tidak bisa menyelesaikan masalahmu sendiri. Aku tahu itu.” “Jangan kau coba mendekatiku lagi. Aku sudah sehat.” “Ini bukan hanya tentang kesehatan. Kesehatanmu tidak bisa diukur, bukan? Jangan berlagak polos seperti itu.” “Lalu kenapa kau selalu muncul menggangguku yang selalu berusaha untuk sembuh?” “Aku tidak mengganggu, aku hanya datang kesini untuk melihat perkembanganmu.” “Omong kosong!” “Tentu saja ini omong kosong! Hahaha!” “Lalu apa maumu?” “Mempermainkanmu.”   Tok-tok-tok “Saya dengar dari luar tadi ada pembicaraan disini?” “Tidak ada” “Benar kah?” “Ya. … Lanjutkan membaca Alice & Ashley #30HariMenulis Hari ke-16

Me in Linguini #30HariMenulis Hari ke-11

Hari itu ketika aku melihat raut wajah Skinner berubah sewaktu ia membaca surat dari mendiang ibuku, aku curiga. Aku mengintip juga saat ia bicara dengan pengacaranya diruangan pribadi Skinner, aku curiga. Walaupun aku tidak bisa mendengar percakapan mereka, aku rasa mereka sedang membicarakanku. Tapi aku pura-pura sedang sibuk dengan pekerjaanku. Jika apa yang mereka bicarakan adalah tentangku, pasti cepat atau lambat Skinner akan memanggil.   Dengan segala kemampuanku berkat Remy, si tikus yang mengendalikanku dari dalam topi chef, aku tahu Skinner tak akan bisa membuangku bagaimanapun bencinya dia terhadapku. Setelah sup ku (sup Remy) berhasil membuat seorang kritikus memuji Gusteau’s … Lanjutkan membaca Me in Linguini #30HariMenulis Hari ke-11