Lotta

Buku ini, adalah salah satu buku cerita pertama yang gw punya saat gw masih kecil bahkan sebelum gw bisa baca. Setelah bisa baca, buku ini dibaca berkali-kali sampai hancur secara fisik dan tak lagi layak buat disimpan yang pada akhirnya terpaksa dibuang. Beberapa waktu lalu tiba-tiba gw keinget dan kangen sama karakter si badung Lotta lalu langsung searching barangkali ada yang jual. Thanks to google and tokopedia yang dengan sangat mudahnya memudahkan keinginan gw. Walopun bekas, tapi masih sangat layak dibaca dan disimpan 😊 Pertama kali ngebuka halaman-halamannya menyeruak bau khas buku tua yang mengembalikan banyak memori masa kecil gw. Senangnya ngga ternilai. 😊 … Lanjutkan membaca Lotta

Gaby & Kevin #30HariMenulis Hari ke-29

Gaby: Gaby gadis pemberani. Tak ada hal apapun dan siapapun yang mampu membuatnya sekedar terkejut. Apalagi takut. Hingga hari itu. Hari pertama ia melihat Kevin mati. Kevin mati. Akibat ulahnya sendiri.   Gaby memandang tubuh Kevin yang terbujur kaku tidak bergerak, wajahnya memancarkan kengerian, dia tidak menyangka bahwa trik sulap yang dilakukan oleh Kevin membuat nyawanya terenggut, trik yang dipersiapkan oleh mereka berdua dengan cukup lama dan teliti ternyata berakibat fatal, baru kali ini Gaby merasakan ketakutan dan kehilangan keberanian, dia hanya berdiri mematung, pikirannya kosong. ****** Musik techno mulai terdengar menghentak-hentak dari speaker yang sepertinya di stel dengan volume … Lanjutkan membaca Gaby & Kevin #30HariMenulis Hari ke-29

Here, I’ll tell you things #30HariMenulis Hari ke-28

This is interesting!   ***   Aku dipertemukan dengan Frani di suatu perkumpulan pelatihan menulis. Sejak awal aku tahu anak ini lebih special dari anak-anak seumurannya. Oh, saat kubilang anak,  maksudku tidak sekecil itu. Aku kala itu berusia 31 tahun dan Frani 21 tahun. Ia gadis yang bersemangat, cerdas dan sedikit tomboy. Sewaktu mengikuti pelatihan menulis, aku bisa melihat kobaran ambisinya begitu berapi-api untuk mengejar cita-citanya.   Suatu hari setelah workshop mingguan, Frani mengajakku untuk hangout di sebuah cafe sebelum pulang. Menimbang-nimbang waktu yang akan kami habiskan, kurasa masih bisa aku mengulur waktu pulang. Ia menumpang motorku dan kami memilih … Lanjutkan membaca Here, I’ll tell you things #30HariMenulis Hari ke-28

My Summer We’ve Spent #30HariMenulis Hari ke-26

Aku sudah memutuskan untuk menghabiskan liburan musim panas di Indonesia. Aku sedang sedikit bosan dengan liburan musim panas yang hampir selalu dihabiskan di pantai, berapi unggun sambil minum-minum dan berpesta. Aku sedang haus akan pengalaman baru. Dari New York aku pergi sendiri ke Indonesia yang beda 12 jam. Sendirian dari sini tapi disana sudah ada teman yang akan menemani. Namanya Nadya, kami bertemu tahun lalu ketika kami sama-sama sedang melancong di Australia. Kami memutuskan untuk bertemu kembali tapi di negara masing-masing. Kali ini di negaranya, mungkin tahun depan atau lain kali aku yang akan jadi tuan rumah untuk Nadya.   … Lanjutkan membaca My Summer We’ve Spent #30HariMenulis Hari ke-26

Lala dan Dudu #30HariMenulis Hari ke-23

Matahari sudah terbenam, pencahayaan dibantu lampu-lampu taman. Dua sejoli yang baru saja jadian mengendarai motor. Sang pengendara kemudian menghentikan laju kendaraannya di sisi taman alun-alun Cimahi. “Disini aja A?” kata Lala sang pujaan hati agak heran. “Iya, disini aja, enak kan tempatnya? Lampunya kuning jadi kerasa hangat.” Dudu mencoba romantis. “Ngga ah, tetep dingin.” Sahut Lala polos sambil merapatkan jaket. Ia turun dari motor, diikuti Dudu yang lalu mengeluarkan borgol dari tas selempang kecilnya. “Eh, mau ngeborgol siapa, Aa?” Lala sontak kaget. “Ini buat Aa” dengan santai Dudu memborgol dirinya sendiri dan lubang satunya lagi dikaitkan ke stang motor bekjul … Lanjutkan membaca Lala dan Dudu #30HariMenulis Hari ke-23

Alice & Ashley #30HariMenulis Hari ke-16

Alice tidak bisa menahan kedatangan Ashley. BRAK! Pintu Alice terbuka lebar tanpa ada perlawanan. “Aku sudah cukup sehat. Sudahlah.” “Haha… kau tidak bisa menyelesaikan masalahmu sendiri. Aku tahu itu.” “Jangan kau coba mendekatiku lagi. Aku sudah sehat.” “Ini bukan hanya tentang kesehatan. Kesehatanmu tidak bisa diukur, bukan? Jangan berlagak polos seperti itu.” “Lalu kenapa kau selalu muncul menggangguku yang selalu berusaha untuk sembuh?” “Aku tidak mengganggu, aku hanya datang kesini untuk melihat perkembanganmu.” “Omong kosong!” “Tentu saja ini omong kosong! Hahaha!” “Lalu apa maumu?” “Mempermainkanmu.”   Tok-tok-tok “Saya dengar dari luar tadi ada pembicaraan disini?” “Tidak ada” “Benar kah?” “Ya. … Lanjutkan membaca Alice & Ashley #30HariMenulis Hari ke-16

Me in Linguini #30HariMenulis Hari ke-11

Hari itu ketika aku melihat raut wajah Skinner berubah sewaktu ia membaca surat dari mendiang ibuku, aku curiga. Aku mengintip juga saat ia bicara dengan pengacaranya diruangan pribadi Skinner, aku curiga. Walaupun aku tidak bisa mendengar percakapan mereka, aku rasa mereka sedang membicarakanku. Tapi aku pura-pura sedang sibuk dengan pekerjaanku. Jika apa yang mereka bicarakan adalah tentangku, pasti cepat atau lambat Skinner akan memanggil.   Dengan segala kemampuanku berkat Remy, si tikus yang mengendalikanku dari dalam topi chef, aku tahu Skinner tak akan bisa membuangku bagaimanapun bencinya dia terhadapku. Setelah sup ku (sup Remy) berhasil membuat seorang kritikus memuji Gusteau’s … Lanjutkan membaca Me in Linguini #30HariMenulis Hari ke-11

Amy #30HariMenulis Hari ke-10

Aku berhasil meyakinkan Amy untuk bersembunyi, menikah dan menetap denganku di Indonesia. Saat itu awal 1942 ketika orangtua dan sanak saudara Amy sebagai orang-orang Belanda sudah meninggalkan Indonesia karena dipaksa kedudukan Jepang. Amy dengan penuh kesadaran ketika itu memilih untuk tidak meninggalkan Indonesia, tidak meninggalkan aku. Tentu saja karena kami tinggal di kota besar, aku harus menyembunyikan keberadaan Amy. Penjajah dari Jepang lebih memfokuskan pembersihan penduduk di kota-kota besar dahulu. Mereka ingin semua orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda disingkirkan, bagaimanapun caranya.   “Ini tak akan lama.” Ujarku menenangkan ketika ia bertanya harus berapa lama lagi ia disembunyikan dan tak bertemu … Lanjutkan membaca Amy #30HariMenulis Hari ke-10

Fire #30HariMenulis Hari ke-8

Ternyata ia belum mati. Aku tak mungkin salah mengingat wajah itu walaupun banyak perubahan telah dilakukan.   ***   Tiga tahun yang lalu. Aku dan Nasya, adikku, bersembunyi dibalik pintu kamar ketakutan. Ibu dan Ayah sedang bertengkar di ruang tamu saling berteriak mengenai sesuatu yang pasti tidak bisa mereka bicarakan secara baik-baik. Karena sejauh yang aku ingat, mereka tidak pernah bertengkar tentang apapun. Bahkan mereka jarang sekali bicara satu sama lain. Malam itu, kami berdua tidur dikamarku berselimutkan kengerian pertengakaran mereka.   Aku Navia 16 tahun kelas 3 SMA. Adikku Nasya 13 tahun kelas 3 SMP. Hanya kami berdua anak-anak … Lanjutkan membaca Fire #30HariMenulis Hari ke-8

Kejutan Hidup #30HariMenulis Hari ke-3

You know, agak sulit untuk menulis tulisan tema romantis ketika mood malah lagi pengen menusuk orang tepat di dada dengan tombak. Tapi ini dia tantangannya, kalau tuntutan yang ada harus nulis tema tertentu, mari coba penuhi saja. Ehm… ***   Tepat saat gw mau cabut dari rumah untuk latihan boxing, ada telpon masuk “Ya?” sapa gw singkat. “Hai Mauryn. Lagi dimana?” “Otw latihan, ini siapa ya?” “Ini aku. Kamu delete nomor aku?” “Aku yang mana ya?” mulai deh ga penting begini “Gw buru-buru nih. Bisa dipersingkat?” “Oh ini Dion. Masih inget?” “Iya. Ada apa ya?” “Hari ini nyantei ga? Bisa … Lanjutkan membaca Kejutan Hidup #30HariMenulis Hari ke-3