Berhijab

Semuanya berawal begitu saja tanpa aba-aba. Tahun 2010 saya bergabung dengan sebuah workshop kepenulisan yang secara kebetulan didalamnya juga tergabung hampir 10 anggota lain yang mayoritas perempuan. Anggota dan pengurusnya hampir semua berhijab. Saya belum berhijab. Mereka tidak mempermasalahkan itu dan saya pun tidak merasa terintimidasi berada dalam lingkungan islami seperti itu karena saya pun merasa saya seorang Muslim. Jadi tak ada bedanya antara kami kecuali pemakaian hijab.   Saya merasa saat itu Allah menyadarkan saya dengan petunjuknya yang lembut. Saat suatu sore di perjalanan pulang dari workshop saya berkontemplasi. Pikiran dan hati berdialog. Dan dari segala pertanyaan dan jawaban … Lanjutkan membaca Berhijab

#30harimenulis 24 Segera

Kemarin libur kerja hari pertama saya berinisiatif untuk ziarah kubur ke makam Bapak walaupun hari raya masih 2 hari lagi (kalau ngga berubah). Kenapa curi start? Karena ziarah hari raya tahun lalu lumayan bikin trauma gara-gara penuhnya ya ampuunn merasa terkepung ditengah lautan manusia di gerbang masuk komplek pemakaman sampai setiap langkah majunya cuma satu inchi-satu inchi. Serius ini. Ngeri banget. Maka pergilah saya kemarin selepas tengah hari sendiri kesana. Saat masuk sepi sekali walaupun pas masuk ada rombongan yang nampaknya baru menguburkan jenazah tapi selain dari itu peziarah yang saya lihat bisa dihitung dengan jari. Siang yang cukup mendung … Lanjutkan membaca #30harimenulis 24 Segera

#30harimenulis 18 Grey & Pale Pink

To make it fair, let’s talk about both side! Yang pait… akan saya wakilkan dengan warna abu-abu karena di kondisi pengalaman pait yang akan saya ceritakan ngga ada tanda-tanda rasa pasti. Ngga sepekat, sepasti dan seabsolut hitam walaupun hitam sering dicenderungkan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Abu itu saya anggap ketidakpastian. Apa yang bisa lebih nyiksa daripada rasa yang ngga pasti..? Ngga punya duit? Bisa jadi sih. Pengalaman pait yang ingin saya bagikan ke teman-teman, calon anak saya, calon cucu saya, diri saya di masa lalu atau siapapun yang baca ini adalah tentang… Patah hati. Klise? Bodo amat. Saya sharing … Lanjutkan membaca #30harimenulis 18 Grey & Pale Pink

#30harimenulis 17 Stone Garden

Pagi itu di hari Minggu kami berbelas-belas orang sudah berkumpul di meeting point untuk langsung pergi ke Stone Garden. Alamat pastinya Google aja lah ya. Tapi dari gambar yang saya searching beberapa hari sebelum pergi ternyata ngga sesuai kenyataan LOL. Seperti yang pernah saya tuliskan di notes lalu yang entah hari ke berapa bahkan tahun yang mana, dulu saya rutin trekking bareng anak-anak yang doyan jalan-jalan. Itu salah satu pelarian saya biar ngga stres. Jadi, singkat cerita sampailah kami di Stone Garden. Dengan bayar tiket beberapa ribu rupiah kami masuk dan… Jengjreng! Panas, giling! Hahaha. Matahari sudah sangat menyengat sekali. … Lanjutkan membaca #30harimenulis 17 Stone Garden

#30harimenulis 16 Words

Komunikasi, Hannah Baker bilang, adalah cara spesies manusia untuk bertahan hidup. Komunikasi bisa terjadi dengan cara verbal dan non verbal. Yang ingin saya bahas sekarang adalah komunikasi verbal, mengungkapkan ide dengan bertukar informasi dari kalimat. Kata-kata. Bertumbuh tanpa teman ngobrol karena kakak-kakak saya terlalu sibuk dengan dunianya membuat saya berpikir bahwa segala hal yang saya ucapkan waktu itu useless dan ga penting untuk dijawab. Sejak SD saya benar-benar merasa saya tidak perlu banyak bicara karena… tidak akan digubris orang seperti halnya yang kakak-kakak saya lakukan. Dan sejak saya memutuskan untuk tidak perlu banyak bicara, disitu pula saya bertemu ide untuk … Lanjutkan membaca #30harimenulis 16 Words

#30harimenulis 15 Santailah Sedikit

Kemarin malam saya tak punya rencana apapun sampai jam maghrib datanglah sebuah pesan “Ikut yu buka bareng?” dari sang pacar. Saya memutar bola mata karena jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Tapi karena jam kerjanya yang menyebalkan, dia memang hampir selalu pulang malam. Begitu juga kemarin saat temannya yang lain sudah berkumpul sejak pukul lima. “Hayu” jawabku. Sampai di tempat bukber, di detik kami datang mereka sudah beranjak sedang saling berpamitan. Saya tertawa antara geli tapi ngga tega. “Gw baru dateng banget ini!” protes pacar. Beberapa beralasan ada keperluan, tapi beberapa yang lainnya yang mungkin iba melontarkan ide … Lanjutkan membaca #30harimenulis 15 Santailah Sedikit

#30harimenulis 14 JWS

So this is a love letter to my brother. Jefri Warjiman Samudra. My third brother yang sering becanda; “Untung gw kakak ketiga ya, kalo kedua jadinya second brother. Kakak bekas hahaha!” Saya ngga ngerasa itu lucu. We didn’t get along when we were kids. Dia terobsesi untuk menjadi anak bungsu. Ibu saya terobsesi untuk mempunyai anak perempuan setelah tiga anak pertamanya lelaki. Itu bukan kombinasi yang baik karena kemudian datanglah saya. It wasn’t really what I want, tho. Walaupun begitu, saya tetap menjalankan peran sebagai putri salju yang manis manja. Kami terpaut jenjang usia enam tahun kira-kira. Itu benar-benar menjadikan … Lanjutkan membaca #30harimenulis 14 JWS

#30harimenulis 13 A Man Named Dave

Saya ingat ketika pertama kali bertemu dengan orang itu. Orang yang kemudian jadi teman baik saya. Sebenarnya dulu saat saya masih kecil, dia tinggal di sekitaran rumah. David namanya. Tapi kemudian dia diboyong ibunya ke San Fransisco, California selama sebelas tahun hingga akhirnya kembali lagi ke Bandung ketika saya masih duduk di bangku SMP. Saya ingat juga awal ia pulang, masih ada gap diantara ia dan kami dalam hal komunikasi. Banyak kata-kata English slang yang terbawa saat ia mencoba berbahasa Indonesia dan ada kata-kata dalam bahasa Indonesia yang kadang ia lupa. Ibu saya bilang “David, ngobrol aja sama anak teteh. … Lanjutkan membaca #30harimenulis 13 A Man Named Dave

#30harimenulis 12 Long Pause

Pagi tadi saya bergegas pergi bekerja naik angkot. Saya memilih untuk duduk disamping supir biar bisa ngaca di kaca spion LOL! Ngga deng hahah, tapi sebelum naik tadi seklias saya lihat supirnya lelaki paruh baya bersih ke-bapak-an. Bukan buat saya sikat juga, tapi lagi kangen bapak aja, jadi boleh kali ya pura-pura punya bapak dulu. “Kerja, neng?” sapa Bapak supir. “Iya pak.” angguk saya sopan. “Sebentar lagi Lebaran ya, muatan Bapak makin sedikit aja nih” tiba-tiba beliau curhat dan saya tak keberatan. Saya mengintip bangku belakang dari spion. Hanya ada dua penumpang lain selain saya. “Sepi ya pa?” pertanyaan retorik. … Lanjutkan membaca #30harimenulis 12 Long Pause

#30harimenulis 3 Ujung Henti Anakku

Aku terbangun dengan suara dering telepon hampir tengah malam. Dari rumah sakit di Bandung bagian lain. Lembang tepatnya. Astaga, Lembang itu tempat kerja Rafa, anak sulungku. Ada apa dengan Rafa? Ketika aku menanyakannya, mereka hanya memintaku untuk segera datang kesana. Perasaanku sudah berkecamuk tak jelas antara khawatir, takut dan cemas. Aku terburu-buru membangunkan suami baruku untuk menemani pergi ke rumah sakit. Ia sama paniknya. *** Kepalaku berdenyar-denyar pusing akibat lampu rumah sakit yang menyorot kuat ke mataku. Aku menuju ke IGD dimana perawat-perawat disana mengarahkan. Salah satu perawat yang baru keluar dari ruangan tempat anakku berada bicara pada kami memberitahu … Lanjutkan membaca #30harimenulis 3 Ujung Henti Anakku