Helen Keller

Selesai membaca The Story of My Life dari Helen Keller, sebelum saya membuat review (atau sekedar pembicaraan acak) tentang buku ini, izinkan saya memberi penghargaan dan penghormatan tertinggi pada dua wanita luar biasa, yaitu Anne Sullivan sebagai guru yang berhasil membentuk keliaran masa kecil Helen menjadi semangat terarah dan Sarah Fuller sebagai guru yang berhasil memberikan pelajaran berbicara hingga Helen yang buta dan tuli hampir mustahil memiliki kemampuan berkomunikasi secara lisan walaupun satu arah, menjadi bisa berbicara.

Bagaimanapun, siapapun itu, para guru selalu merencanakan bagaimana cara mengeluarkan murid-muridnya dari keterbatasan yang sudah ditakdirkan pada mereka. Bahkan sesederhana menjadi fasilitator bagi murid normal pun; yang tidak tahu menjadi tahu, tidak paham menjadi paham, tidak bisa menjadi bisa; dialah yang memerdekakan jiwa kita dari ketidaktahuan, ketidakpahaman dan ketidakbisaan itu. Atas rencana mulia itu, saya sangat berterimakasih pada semua guru di dunia ini.

Baiklah, saya mulai short-review nya. Helen Keller adalah perempuan yang terlahir normal tetapi di umurnya yang masih sangat kecil dan hanya baru bisa mengingat beberapa memori singkat, ia terserang demam tinggi yang menyebabkan matanya buta dan telinganya tuli. Bagi sebagian besar tunarungu biasanya diikuti dengan ketidakmampuan berbicara karena tunarungu kesulitan meniru cara bicara ketika mereka tidak diberi kemampuan mendengar cara orang lain bicara.

Sampai sini, bisa dibayangkan kesepian dan kegelapan seperti apa yang dialami Helen? Ya, bayangan kita itu harus dihadapi Helen seumur hidupnya karena berbagai upaya penyembuhan apapun sayangnya tidak dapat berhasil.

Tapi, tentu saja, tidak berakhir sampai sini. Dengan ambisi, kemauan, kemampuan Helen dan dukungan orang-orang disekelilingnya ia berhasil mengenyahkan segala halangan lalu menggebrak dunia dengan pencapaiannya. Boleh jadi matanya buta, tapi seluruh syaraf-syaraf tubuhnya peka terhadap keadaan di sekitar. Itu potensi yang ia miliki dan ia maksimalkan.

Jalan memang tak selalu mulus, namun jiwa hangat dan lembut Helen terlatih untuk berpikir baik dan berjiwa besar. Bagi segala kesulitan yang secara tak sengaja menghalangi jalannya, ia sangat puas mengetahui bahwa ia pada akhirnya selalu bisa mengatasi semua penghalang itu.

Quote yang saya suka dari sepanjang buku ini adalah “Aku berusaha menjadikan penglihatan di mata orang lain sebagai mentariku, musik yang didengar telinga orang lain sebagai simfoniku dan senyum di bibir orang lain sebagai kebahagiaanku.”

Bagi saya, Tuhan menciptakan semua makhluknya dengan sama rata. Bedanya hanya di satu bagian kita memiliki kekurangan tapi di beberapa bagian lain kita memiliki kelebihan. Sama seperti Helen. Mungkin ia tidak berhasil di dua indera yaitu penglihatan dan pendengaran, tapi ia sangat berhasil di indera yang lain, kepekaan hati, kecerdasan otak dan kemampuan lainnya. Tuhan itu adil.

Jika kamu sedang mengalami mental-breakdown atau sesederhana sedang memandang dunia dalam sisi negatif, coba lihat video saat Helen Keller berbicara, kita (terutama saya) dihadapkan dengan desiran hangat di dalam hati yang berkecamuk menyatukan banyak perasaan. Tersentuh karena kebesaran jiwa yang dimiliki Helen, betapa ia tak kenal kata menyerah, terenyuh akan kasih Tuhan yang memberikan jalan bagi mereka yang bersungguh-sungguh, malu jika bercermin pada diri sendiri bahwa kesulitan saya tak berbanding sedikitpun pada kesulitan Helen dan masih banyak lagi…

Ah, the amazing Helen Keller :’)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s