Kapan Nikah

“Kapan nikah?”

adalah pertanyaan klasik, horror, legendaris, annoying disaat yang sama untuk sebagian besar orang-orang yang belum menikah tapi punya pasangan, apalagi yang belum punya pasangan sama sekali. Momen Idul Fitri kemarin dikenal dengan momen was-was menghadapi pertanyaan itu, sampai-sampai ada meme kiat jitu menghadapi si pertanyaan basi dengan cara pura-pura kesurupan atau balik tanya “kapan mati?”

Well, yea, dikatakan basi karena pertanyaan tadi akan diulang-ulang sebelum undangan pernikahan tersebar, sebelum ijab kabul diucap, sebelum kabar pergantian status diumumkan. Kalau udah nikah, pertanyaan berubah level donk, ganti dengan “kapan punya anak?” Dan begitu seterusnya. Berubah lagi dengan “kapan nambah momongan?” Lalu “kapan cerai?” -atau mungkin ngga-

Saya sendiri kebagian pertanyaan itu. Sebagai orang yang hobi jawab pertanyaan macam itu dengan jawaban sarkastik, saya gatel buat ‘ngasarin’ orang. Tapi, tentu saja ngga saya lakuin. Saya dengan ketidakmampuan saya berkelit hanya bisa jawab dengan nyengir kuda dan dalam hati bilang ‘whatever’.

***

Kemudian saya pikir… ya, saya ini sudah berumur, saat orang seumur saya sudah mempunyai satu atau dua anak, saya bahkan belum menginjakkan hidup saya ke tahap lebih membangun keluarga baru. Orang-orang sekitar yang pasti menyayangi saya dan berharap yang terbaik untuk saya hanya membantu mengingatkan ada alarm yang akan segera berbunyi atas nama usia kesehatan dan masa subur rahim saya

 

$#@&/Zxngeikssdk -pita kaset kusut- hdhwimekdz@&$%#*

 

But then again… I think…

Screw that!! This is my life, my rule! Untuk yang sekiranya ngga akan kasih modal buat resepsi, untuk yang hanya ingin melihat saya berganti status, keep waiting. Saya tidak akan memaksakan diri harus cepet nikah dan cepet punya anak HANYA KARENA ‘kepanasan’ sama teman-teman saya yang udah duluan.

Saya mungkin sudah tua, saya mungkin belum punya jawaban ketika ditanya pertanyaan maha-ngeri itu. Tapi, saya bersyukur saya sedang menjalani hidup yang setiap saatnya saya syukuri. Kalau para penanya itu sudah mendapat jodoh di usia muda dan dimapankan dalam keluarga kecil yang baru, itu rezeki untuk mereka, saya bersyukur untuk mereka. Jika saya belum dimantapkan jodohnya sampai saat ini ya memang belum saatnya saja, toh saya sehat, mandiri dan bahagia. Tidak bisakah kalian cukup bersyukur untuk saya?

Gini, untuk orang-orang tertentu pertanyaan tersebut bisa jadi sangat menyinggung. Berbeda dengan saya, mereka yang tersinggung mungkin sudah mengusahakan setengah mateng pengen berkeluarga tapi emang dasar belum waktunya aja. Jadi ngga usah lah menambah beban mereka dengan pertanyaan yang saya yakin hanya dilontarkan demi memenuhi rasa penasaran aja, bukan karena benar-benar peduli.

Diluaran sana sebenarnya lebih ‘menakutkan’. Perempuan diatas 25 tahun yang belum menikah dianggap sebagai perempuan ‘sisa’ dan dipandang sebelah mata. Tidakkah kalian tahu bahwa itu jadi sebuah beban dan pikiran tersendiri bagi mereka. Gimana kalau memang mereka sedang nyaman dengan dirinya sendiri? Gimana kalau mereka punya trauma dengan hubungan asmara? Gimana kalau mereka sudah berusaha tapi belum dikasih? Keluarlah dari stereotype sempit macam itu.

Berhenti menanyakan pertanyaan konyol itu. Doakan sajalah yang terbaik.

I mean, everybody doesn’t have to live in the same way! Deal with it.

*Just because we took longer than others, doesn’t mean we failed. Remember that.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s