Words can be sharper than knife

Saya ngga bisa menghilangkan pikiran yang mengganggu saya ini sebelum saya luapkan atau tuliskan. Gemes banget!

 

Sekitar seminggu lalu, saya sedang mengobrol dengan kakak saya lalu ada anak kecil yang sedang bermain dengan keponakan saya bilang (mencela lebih tepatnya)

“… iya yang item itu, kalo dia ketawa cuma keliatan giginya aja!” lalu keduanya terbahak seakan topik itu wajar sekali untuk ditertawakan. Saya dan kakak saya otomatis saling bertatapan.

“Kalian ngga boleh ngomong begitu tentang orang lain. Itu ga sopan…” dan lalu kakak saya memberikan mereka ceramah panjang yang kemudian bikin anak-anak ini kabur teratur setelah mereka mencoba membela diri dengan

“Teteh juga pasti suka ngejek orang!” tapi kami tangkis dengan

“Ngga, kami ngga pernah ngejek orang tentang kekurangannya!”

Setelah mereka pergi, kami hanya menggelengkan kepala tak percaya akan kemahiran anak kecil menghina orang lain. Dari kecil aja udah bakat banget menghina orang!

 

Seminggu kemudian, saya mendengar tetangga sedang mengobrol membicarakan sesuatu sampai pada kalimat

“Istri kamu setelah melahirkan kenapa jadi gede begitu? Gemuk banget kayak raksasa!” I was like WHAT?! Saya memasang kuping untuk mendengar jawaban sang suami tentang statement itu, tapi kedengarannya dia tak menggubris celaan tadi sampai…

“Yee ditanya juga! Istri kamu setelah melahirkan kenapa jadi gede begitu, gemuk banget kayak raksasa?”

Udah menghina, diulang-ulang pula! Untungnya sang istri ngga ada disitu! Kalo saya, sih, saat mencela orang dan orang itu ngga menjawab sudah bisa hampir dipastikan ia tersinggung. Tak usah lah hinaan itu diulang lagi. Saya sungguh merasa terganggu dengan perkataan yang tidak selayaknya keluar dari mulut orangtua. Saya tidak membesar-besarkan masalah karena ini bukan kesalahpahaman menanggapi lelucon. For me, it wasn’t a joke at all. Hal ini sampai membuat saya geram di dalam hati dan merasa harus mengungkapkannya seperti ini.

 

Saya jadi merasa ‘wajar’ mendengar cela-celaan itu keluar dari mulut anak-anak kecil karena orang-orang tua pun ngga menyaring omongannya. Di saat yang sama saya miris sekali dengan kebiasaan meledek/menghina fisik karena sepertinya ini sudah jadi “budaya” yang diwajarkan masyarakat. JIKApun lontaran kata-kata itu dimaksudkan untuk bercanda, IT’S NOT FUNNY!

 

Lalu beberapa waktu lalu, saya baca post ini di twitter yang kurang lebih bisa mewakili apa yang jadi unek-unek saya;

 

“If you feel the need to degrade someone because they look a certain way, you are self conscious and need to learn a different way to handle you insecurities. People know what they look like, it’s something they live with. Telling someone they need to eat because they are ‘anorexic’ is just as offensive as calling someone a ‘fat pig’. Instead of looking for ugliness in people, why not acknowledge how beautiful everyone is in one way or another? Every single person has something breath taking about them, something absolutely lovely and it is a shame that people do not see this. If you do not love yourself please learn how to love yourself and DO NOT take your anger/hate out on other people!”

 

Iya, mungkin saya sedang curhat akan kegelisahan saya tentang cara orang-orang (tua dan muda) berkomunikasi, becanda, meledek, menghina karena mungkin saya pernah diperlakukan tidak baik sebelumnya. Apapun alasan saya membahas hal ini; Plis lah, becandanya yang rada cerdas sedikit!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s