Gaby & Kevin #30HariMenulis Hari ke-29

Gaby:

Gaby gadis pemberani. Tak ada hal apapun dan siapapun yang mampu membuatnya sekedar terkejut. Apalagi takut.

Hingga hari itu.

Hari pertama ia melihat Kevin mati.

Kevin mati.

Akibat ulahnya sendiri.

 

Gaby memandang tubuh Kevin yang terbujur kaku tidak bergerak, wajahnya memancarkan kengerian, dia tidak menyangka bahwa trik sulap yang dilakukan oleh Kevin membuat nyawanya terenggut, trik yang dipersiapkan oleh mereka berdua dengan cukup lama dan teliti ternyata berakibat fatal, baru kali ini Gaby merasakan ketakutan dan kehilangan keberanian, dia hanya berdiri mematung, pikirannya kosong.

******

Musik techno mulai terdengar menghentak-hentak dari speaker yang sepertinya di stel dengan volume suara maksimum, dentumannya memenuhi setiap sudut ruangan diskotik dimana Kevin menyandarkan tubuhnya di salah satu dinding diruangan itu memandang dari jauh kerumunan orang-orang yang berjingrak-jingkrak mengikuti irama musik, mata Kevin tertuju kepada seorang gadis yang begitu bersemangat mengikuti alunan musik, dia seperti berada di dunianya sendiri begitu menikmati alunan musik yang terus berdentum tiada henti, tubuhnya bergoyang dengan sangat mempesona.

Seorang pria mendekati gadis itu sepertinya dia berusaha memancing perhatian sang gadis, tapi gadis itu tidak menggubrisnya dan terus bergoyang tanpa mempedulikan kehadiran pria itu, tiba-tiba pria itu memeluk gadis itu dari belakang, gadis itu memberontak melepaskan pelukan pria itu dan mendorongnya, tapi sepertinya pria itu belum mau menyerah, tangannya berusaha meraba payudara gadis itu, tapi sedetik kemudian gadis itu menangkap tangan pria itu dan kemudian memutarnya kebelakang hingga pria itu terlihat kesakitan dan mendorongnya jatuh ke lantai, pengunjung lain terlihat tertawa melihat pria itu tersungkur, pria itu kemudian bangkit lagi dan berusaha menyerang gadis itu, tapi gadis itu dengan mudah menghindari serangan pria itu,malah kemudian membalasnya dengan menendang kemaluan pria itu, pria itu langsung tersungkur menjerit kesakitan, pria cabul itu berusaha bangkit kembali tapi Kevin telah berdiri dihadapannya, matanya memberi isyarat supaya pria itu mundur, pria itu kemudian bersungut-sungut sambil meringis menahan sakit dan pergi berbaur diantara para pengunjung diskotik.

Kevin kemudian berbalik memandang sang gadis, sekarang gadis itu terlihat jelas dia punya mata coklat yang berbinar, rambutnya panjang bergelombang hingga sebahu, tulang pipinya tinggi dan dia melempar senyumnya yang memikat, hati Kevin berdegub kencang, tak salah lagi inilah gadis yang selama ini diimpikannya, gadis itu kemudian berjalan kearah salah satu meja dan Kevin kemudian mengikutinya.

“Terima kasih sudah membantuku tadi” ucap gadis itu

“Tidak masalah, saya juga tidak suka ada pria yang memperlakukan wanita seperti itu, kau gadis yang pemberani.”

“Kalau cuma lelaki macam itu, aku tidak takut”

“Kevin”, Kevin memperkenalkan dirinya kepada gadis itu.

“Gaby”, Jawab gadis itu sambal menjabat tangan Kevin.

Setelah berjabat tangan, Kevin mengambil setumpuk kartu remi dari kantung jasnya dan memperlihatkannya kepada Gaby.

“Gaby apakah kau mau melihat sebuah trik ?”

“Trik? semacam sulap?”

“Yah seperti itu”

“Wow, Saya suka sulap”

“Cocok kalau begitu”

Kevin kemudian mengkocok tumpukan kartu remi itu dan meletakkannya diatas meja.

“Ambillah satu kartu sembarangan dan jangan memperlihatkannya kepada saya, jika kau sudah tahu kartumu simpan kembali kedalam tumpukan dan kemudian kamu mengocoknya kembali dan setelah itu letakkan diatas meja”
Gaby kemudian melakukan apa yang diperintahkan oleh Kevin setelah selesai mengocok tumpukan kartu itu diletakkan kembali ke atas meja.

Kevin kemudian mengambil tumpukan kartu itu kembali dan memperlihatkan keahlian tangannya, kartu-kartu remi itu seolah-olah seperti menari-nari diantara kedua telapak tangan Kevin, setelah puas memperlihatkan atraksinya, Kevin kemudian meletakkan kembali tumpukan kartu itu kembali ke meja.
“So? what next? “ ucap Gaby dengan senyum penasaran.

“Lihat kedua telapak tangan saya, tidak ada apa-apa kan?”
Kevin memperlihatkan kedua tangannya kepada Gaby, membolak-baliknya untuk meyakinkan Gaby bahwa tidak ada benda yang disembunyikan, kemudian tangan kanannya diarahkan ke telinga kanan Geby dan menarik sebuah kartu remi dan memperlihatkannya kepada Gaby.
“Ini kartumu kan?”

“AS Hati! Wow bagaimana kau melakukannya?”

“Itu Rahasia”

“Apakah kau selalu melakukan hal ini untuk menarik perhatian para gadis?”

“Tidak, tidak semua gadis”, ucap Kevin sambil tersenyum dan kembali memasukkan kartu-kartu remi itu kembali ke dalam kantung jasnya.

“Kevin, apakah kau mau melihat trik lain? Trik yang lebih menantang?”

“Gaby? Kau juga bisa sulap?”, Kevin terlihat terkejut.

“Boleh dibilang seperti itu, tapi bukan disini, apa kau mau bersedia ikut denganku?”

“Sepertinya kau mempunyai banyak kejutan”

“Hei apakah ini pujian?”

Surprise me please!”

Then, follow me….”

Gaby beranjak dari tempat duduknya dan diikuti oleh Kevin. mereka berdua meninggalkan ruangan diskotik yang sedari tadi tiada henti memainkan musik yang berdentum, dari balik pengunjung yang berjingkrak-jingkrak terlihat pria yang tadi berusaha melecehkan Gaby, pria itu memandang kepergian mereka berdua dengan sorot mata yang tajam penuh kebencian.

“Apa kau melakukan sulap sebagai pekerjaan utamamu?” tanya Geby.

“Tidak. Ini salah satu hobiku. Kamu?”

“Ini juga hanya hobi bagiku. Aku suka berada diujung batas kemampuanku dan terus memaksa diriku.”

“Kau suka tantangan?” Kevin menambah kekagumannya.

“Bisa dibilang aku adrenaline-junkie.” Gaby mengulum senyum “Kau bisa berenang?” derap langkah mereka mengantarkan ke sebuah gudang besar yang nampak sudah tak terpakai tak jauh dari club tadi.

“Tentu.”

“Jika kolam renangnya sesempit ini?” Gaby menyibak kain hitam yang menutupi kotak besar memanjang ke atas terbuat dari kaca tebal. Sudah ada air didalamnya hampir penuh.

“Ini bukan berenang, tapi menenggelamkan diri, Gab.” Kevin tertawa getir, disambung tawa lepas dari Gaby. “Aku belum pernah melakukan ini.”

“Kamu jelas sudah tahu trik apa yang akan dipertontonkan dengan alat ini bukan?”

“Melepaskan diri dari rantai dan gembok, sekaligus keluar dari kotak ini?” Kevin menunggu persetujuan.

“Ya. Kau ingin mencobanya?” Gaby terkesan menantang.

“Mmm…” sangat tak mungkin jika Kevin harus menolak tantangan dari seorang gadis “Boleh.”
Gaby menyibak satu kain hitam lagi dari kotak kaca yang sama besarnya tapi hanya berisi air setinggi dirinya. Kotak kaca satu ini untuk berlatih. Mereka lalu berdiskusi lama membicarakan cara-cara membebaskan diri dari rantai dan gembok yang berat yang akan semakin menyulitkan eksekusi. Setelah mengajarkan trik membuka gembok dan rantai yang membelit tubuh, Gaby mengajarkan Kevin untuk melakukannya lebih cepat. Stopwatch sudah tersedia dan belitan rantai sudah terpasang. Kali ini belum dilakukan didalam air. Kevin melakukan aksinya tepat ketika Gaby menekan tombol start stopwatch.

Catatan waktu melebihi tiga menit dari target yang dibuat Gaby. Tapi ia dengan sabar memberi masukan dan koreksi untuk Kevin.
“Kurasa malam ini cukup.” Kata Gaby akhirnya setelah beberapa kali berlatih. Saat mereka melihat jam, ternyata hari sudah menunjukkan pukul 4 dini hari.

“Bisa kita lakukan ini lagi besok?” Kevin malah sepertinya belum ingin berhenti mencoba.

“Yakin?”

“Tentu saja.”

“Baiklah…” Gaby menaiki tangga bermaksud menutup kotak kaca dengan kain-kain tadi. Kevin mengikuti langkah Gaby. Sesampainya di anak tangga teratas mereka berdiri mematung hanya terpisah jarak beberapa senti.

“Kamu sudah lama melakukan ini?” Kevin bertanya, matanya terfokus pada leher mulus Gaby.

“Melakukan apa? Berdiri dianak tangga teratas?” Gaby bercanda.

“Adrenaline trick.” Bibir Kevin semakin mendekati leher Gaby. Tangan kanan Kevin menyentuh pinggang Gaby.

“Emm… ya” Gaby kesulitan fokus pada pertanyaan Kevin “Sudah sangat lama.”

Dalam hati Gaby, ia memohon agar Kevin bisa segera mendaratkan ciuman dilehernya. Permohonannya terkabul. Kevin menciumi leher wangi Gaby,sementara Gaby tak bisa menahan reaksi alami tubuhnya untuk mendekap tubuh Kevin. Bibir Kevin mendaki ketinggian leher Gaby dan kini mendaratkan kecupan lembutnya di bibir Gaby. Gaby tak bisa hanya menerima kecupan lembut, Gaby membalas ciuman Kevin dengan penuh gairah. Kevin tak menyia-nyiakannya.
“Mau menghabiskan malam di apartemenku?” Kevin menawari.

“Aku mau.” Gaby mengangguk.

***

Keesokan siangnya mereka berencana makan siang bersama lalu melanjutkan sesi latihan kemarin malam.
“Kau menyenangkan.” Puji Kevin.

“Aku tahu. Kau juga menyenangkan.” Balas Gaby.

“Kita bisa melakukan ini terus kan?” mereka mengobrol di sela-sela pasta yang sedang mereka lahap.

“Meneruskan adrenaline tricks atau bermalam bersama?” Gaby bertanya dengan nada menantang. Kevin tersenyum malu.

“Ini aku yang kurang jelas atau kamu yang kurang peka?”

“Well, jelaskan saja.”

“Keduanya. Aku ingin melakukan adrenaline tricks dan bermalam bersama terus.”

Sounds pretty good to me.” Jawab Gaby sambil menggigit bibirnya.

Latihan melepaskan diri sudah dimulai didalam kotak kaca berisi air setinggi mereka. Jadi jika waktu yang dihabiskan melebihi target, orang didalam kotak kaca masih bisa meloncat ke permukaan untuk menghela nafas baru. Mereka berdua sama-sama yakin Kevin bisa melakukan ini setelah diberi contoh oleh Gaby. Kali ini Kevin menyelesaikan permainan tepat waktu.

“Aku ingin mencoba kotak ini.” seru Kevin menunjuk kotak kaca dengan air yang penuh.

“No, kamu belum siap untuk itu.” Sanggah Geby.

“Aku bisa. Aku tahu aku bisa.”

“Jangan terburu-buru. Santai saja, kamu punya banyak waktu.” Gaby membereskan semua perlengkapan. “Aku harus pergi ke supermarket membeli beberapa barang. Kamu tunggu saja disini ya.”

“Oke.” Sahut Kevin sambil mengelap tubuhnya dengan handuk.

Selepas Gaby pergi beberapa langkah, Kevin langsung menjalankan rencana di otaknya. Dia akan mencoba masuk kotak kaca dengan air yang penuh tanpa pengawasan (dan bantuan) Gaby. Karena terburu-buru, Kevin tak mempersiapkan latihan kali ini dengan matang. Ia segera memasuki kotak kaca itu dengan penuh ambisi untuk menaklukan tantangan.

Gaby agak kesulitan menyeimbangkan kantong belanja di kedua tangannya. Susah payah ia membuka pintu samping yang menuju ke dapur. Selain camilan dan minuman yang akan ia nikmati bersama Kevin, Gaby juga berbelanja keperluan sehari-harinya.
“Keviiin… kuharap kau  suka minuman rasa strawberry!”
Gaby meletakkan barang-barang belanjaannya di atas konter dapur. Ia hanya mengeluarkan minuman dan camilan. Belanjaan lainnya, ia bereskan nanti saja.
“Kev? Kevin??”
Mustahil ia ketiduran. Tadi ia pergi tidak lama kok, paling setengah jam sampai 45 menit.

Gaby berjalan menuju gudang, tempat mereka latihan trik sulap sambil menenteng minuman dan camilan.

“Kev, jangan bercanda deeeh…”
Di pintu masuk gudang, Gaby tersentak.

Kepala Kevin jatuh terkulai melewati kotak kaca yang berisi air penuh. Ia diam tak bergerak. Air menetes-netes dari rambutnya yang basah.
“KEVIIIIIIIN !!!!!”
Minuman dan camilan jatuh ke lantai, berhamburan.

Gaby duduk menggigil di sudut ruangan interogasi yang dingin. Sudah hampir dua jam ia di situ. Sudah habis semua pertanyaan yang diajukan oleh para polisi penyidik berkenaan dengan kasus terbunuhnya Kevin.
“Jadi, berapa lama saudari meninggalkan saudara Kevin di dalam rumah??” tanya polisi yang berjanggut. Tubuhnya tinggi kekar, nampak mengancam.
“30 sampe 45 menit, Pak” Gaby memijat kepalanya yang pening. Pertanyaan yang sama sudah dibolak-balik sedari tadi.

“Yang betul jawabnya!! 30 atau 45??” polisi kurus yang bersandar di pintu membentak. Ia tidak punya kumis maupun janggut tapi tatap matanya dingin.

“Saya tidak lihat jam, itu perkiraan,”

“Kemana saudari saat itu??”

“Ke supermarket, depan apartemen, Pak.”

“Ada yang bisa bersaksi melihat Anda di sana tidak?? Anda harus punya alibi.”

Gaby termenung. Ia termasuk warga yang tidak begitu bergaul dengan masyarakat. Meskipun supermarket tersebut sering ia kunjungi, namunia tidak yakin ia dikenal baik oleh para pegawainya.

“Ada, tidak??”

“Mmh ..tidak ada pak,”

Kedua polisi itu memandangnya tajam. Ya Tuhan.

Terdengar ketukan di pintu.
“Masuk!!”

Seorang petugas polisi lainnya masuk sambil membawa beberapa tumpuk berkas. Ia langsung menuju ke polisi kurus di dekat pintu. Tak lama mereka berbincang dengan suara rendah. Si janggut kemudian ikut bergabung.

Perasaan Gaby semakin tidak enak.

Polisi yang baru masuk kemudian meletakkan tumpukan berkas yang ia bawa di atas meja. Setelah mengangguk kepada kedua rekannya, ia keluar lagi.

Sesaat hening tak ada yang bicara.
“Saudara Gaby,” si Janggut memulai.

Gaby mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk.
“Ada perkembangan baru. Korban Kevin ternyata tidak mati akibat tenggelam dan tak bisa meloloskan diri dari kotak kaca. Ada bekas-bekas kekerasan di sekitar leher korban. Sepertinya ia dijerat dengan semacam tali hingga mati. Talinya sudah kami temukan tersembunyi di tumpukan sampah di halaman belakang”
Kedua mata Gaby mulai berkaca-kaca.

“Dengan kata lain, Kevin dibunuh.”
Gaby mengeluarkan isak lirih.
“Dan Anda tahu sidik jari  siapa yang kami temukan di tali?”

“Si.. siapa??”

“Sidik jari Anda, Nona.”

“Haahhh??”

“Tidak mungkin pak! Kan saya sudah bilang, saya ke supermarket.”

“Bohong kamu! Barang bukti sudah jelas. Apalagi ada sidik jari kamu.” ujar si janggut.

“Baik, berdasarkan bukti yang ada dan keterangan para saksi, anda kami tetapkan sebagai tersangka”, ucap polisi satunya.

“Tapi pak! Pak, tolong pak. PAAKKK!! BUKAN SAYA PELAKUNYA!”, teriak Gaby dengan panik.
***

Beberapa bulan kemudian…

Gaby termenung di sel. Tiba-tiba sipir penjaga memanggilnya. Dia mengatakan bahwa ada yang ingin ketemu sama kamu. Gaby dibawa keluar dari sel sembari dikawal sipir. Sampai di tempat, Gaby bingung. Siapa yang ingin bertemu dengannya. Lalu duduklah seseorang yang memakai jaket hitam dengan tudung menutupi wajah. Tak lama, tudungnya dibuka…..
“KEVIN!!!”, Gaby terkejut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s