Here, I’ll tell you things #30HariMenulis Hari ke-28

This is interesting!

 

***

 

Aku dipertemukan dengan Frani di suatu perkumpulan pelatihan menulis. Sejak awal aku tahu anak ini lebih special dari anak-anak seumurannya. Oh, saat kubilang anak,  maksudku tidak sekecil itu. Aku kala itu berusia 31 tahun dan Frani 21 tahun. Ia gadis yang bersemangat, cerdas dan sedikit tomboy. Sewaktu mengikuti pelatihan menulis, aku bisa melihat kobaran ambisinya begitu berapi-api untuk mengejar cita-citanya.

 

Suatu hari setelah workshop mingguan, Frani mengajakku untuk hangout di sebuah cafe sebelum pulang. Menimbang-nimbang waktu yang akan kami habiskan, kurasa masih bisa aku mengulur waktu pulang. Ia menumpang motorku dan kami memilih tempat ngopi yang tak jauh dari tempat workshop.

“Teh Rima, aku ganggu kegiatan Teteh ngga?” tanya Frani sebelum kami memesan sesuatu.

“Ngga, santai aja. Semuanya udah diatur.” Mungkin Frani memikirkan kesibukanku sebagai seorang guru, istri dan ibu dari dua anak sekaligus.

 

Aku lalu memesan strawberry pancake dengan hot cappuccino, sementara Frani memesan banana pancake dengan hot chocolate. So cute!

“Apakah kita akan meneruskan diskusi tentang tugas tulisan tadi?” tanyaku masih tak punya ide mengapa tiba-tiba ia mengajakku hangout.

“Oh ngga, bukan itu.” Frani tergelak. “Cuma pengen ngobrol aja.” Katanya. Tapi aku tahu ini lebih dari ‘pengen ngobrol aja’.

“Okay.” Jawabku menunggu Frani membocorkan segala galaunya tanpa kuminta. Aku lumayan sering diajak hangout hanya untuk mendengarkan dan memberi saran teman atau anak didikku. Dan selama aku bisa, aku sama sekali tak keberatan.

 

“Mmm… aku pengen cerita, dan minta saran kalau boleh.” Frani memulai, aku mengangguk pelan. “Aku baru kenal Teteh sih, tapi aku ngerasa Teteh yang paling tepat aku curhatin hehe!”

“Kenapa begitu?” aku penasaran.

“Soalnya Teteh open-minded, dan… Teteh guru paling ‘gaul’ yang pernah aku kenal.” Hidungku rasanya terbang!

“Jadi, ceritanya tentang apa nih?”

“Hmm… Teteh waktu itu nikah muda kan ya?”

“Iya”

“Setelah nikah, ada rasa nyesel ngga?”

“Aku pribadi ngga sih. Saat aku memutuskan untuk menikah, aku tahu betul aku masih sangat muda. Dan buat aku, apa yang aku putuskan apalagi sebesar keputusan untuk menikah ya bukan main-main. Saat aku bilang ‘iya’, aku berarti harus siap, lahir batin.” Aku tak bisa menahan mulut cerewet ini padahal pertanyaannya bisa dijawab hanya dengan satu kata.

 

Frani mengangguk-angguk sambil memutar sendok dalam hot chocolate-nya yang baru datang dan masih mengepulkan hawa panas. Aku melongok ke cangkir cappuccino-ku yang sangat menggoda.

“Aku mau nikah muda.” Akunya dengan satu sunggingan senyum yang dipaksakan.

“Are you sure?” sedetik kemudian aku menyesali pertanyaanku. Bagaimana tidak? Frani mengajakku bercerita mungkin karena sedang butuh untuk diyakinkan. Kalau aku bertanya seperti itu, apa dia tak lebih ragu lagi?

“Well, that’s the problem.” Akunya lagi. “Aku takut…” kalimat itu menggantung. Aku memasang jeda.

“Listen, kamu masih punya banyak waktu untuk berpikir. Take your time. Tidak usah terburu-buru.” Frani mengangguk. “Udah berapa lama deketnya sama calon kamu?” aku mengajukan pertanyaan itu antara kepo dan berusaha untuk mencairkan suasana, agar Frani tak terlalu tegang.

“Almost two years. Hardly.”

“Hardly?”

“Yah, lumayan susah payah mempertahankannya.” Frani tersenyum dan menyelipkan rambut dibelakang telinganya. Senyumnya mempunyai banyak arti, bahagia dan sedih.

“What is it like to be in marriage life and having your own family?” tanyanya lagi. Ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan satu kata, tentu saja.

“It’s… amazing! Happy dan rempong at the same time.” Aku benar-benar harus memberikan gambaran jelas untuk seseorang yang sedang membutuhkan saran dan bimbingan.

 

“Really? Tell me!” matanya berbinar penuh keingintahuan.

“Ya. Dulu aku bogoh (cinta) banget sama pasanganku, jadi the idea of spending the rest of my life with him was really a great idea!” aku yakin mataku berbinar juga ketika menceritakan ini pada Frani.

“Apa rasa cinta masih bertahan sampai bertahun-tahun kemudian?”

“Aku sih iya. Semakin lama semakin cinta dan semakin tergantung satu sama lain, in positive way.” Frani nampak ragu di kalimat ini. “Fran, falling in love with each other in the same time is such a hard timing to wait or to create. It cannot be created anyway. Dulu kami saling mengakui bahwa kami sama-sama sedang jatuh cinta satu sama lain, sama-sama yakin pada satu sama lain dan sepakat untuk mempertahankan perasaan itu sampai kapanpun. Maybe it sounds cheesy, tapi ternyata ‘janji’ kami berhasil juga.” Aku mengawang-awang membayangkan romansaku bersama suami dulu. “Jadi aku pikir saat kamu dan pasanganmu sedang sama-sama jatuh cinta satu sama lain, the perfect way untuk mengunci rasa itu salah satunya dengan menikah. Do you love him?”

“Perfectly.” Jawabnya mantap. Kami terdiam sebentar. Sama-sama menyeruput minuman masing-masing dan mulai menyuap pancake.

 

“Gimana dengan dukanya?” Frani ingin tahu.

“Kesulitan setelah berumah tangga jelas jauh berbeda sama kesulitan saat masih single. Utamanya sih yang aku alami, aku sadar bahwa aku harus mengenyampingkan egoku sebagai seorang pribadi. Yang dulunya merasa bisa melakukan apapun atas kehendak diriku sendiri, sekarang ngga lagi.” Frani menyimak serius. Aku menangkap kepolosan seorang wanita muda yang akan menyambut kehidupan barunya. “Kalau kamu udah siap lahir batin untuk menikah, aku rasa kamu akan ikhlas aja menghadapi semua hal yang baru.” Aku meyakinkan.

“Apa Teteh yakin aku akan baik-baik saja?” tak sengaja aku menangkap suaranya yang bergetar ragu.

 

“Kenapa kamu nampak ngga positive?” aku malah balik bertanya.

“Aku tumbuh dari keluarga broken home, Teh…” nyess, hatiku meleleh sedih. “Aku takut akan ada pola berulang semacam karma. Karena beberapa peristiwa nampaknya ngga cukup hanya terjadi satu kali.” Ada sesuatu yang menohok hatiku. Ya, bisa seberat ini pengaruh anak-anak ‘hasil’ broken home. Akan ada satu hal yang bergelayut di hati memberatkan rasa pesimis untuk bisa mendapat hidup lebih baik. Mata Frani mulai berkaca-kaca, aku ingin mencegahnya menangis.

“Begini Fran, semua orang punya kesempatan yang sama untuk memulai hidup lebih baik saat mereka memutuskan untuk memulai keluarga baru. Dan semua orang punya hak yang sama untuk memperjuangkan dan mendapat kebahagiaan. Malah aku rasa semua orang wajib bahagia. Begitu juga kamu.” Frani tertunduk paham. “Kamu terlalu banyak khawatir. Worrying will gets you nowhere.”

“Apa aku akan baik-baik saja?” ia mengulang pertanyaannya. Anak ini sungguh perlu seseorang untuk membuatnya tetap memandang hidup dengan positive.

“Tentu. Everything’s gonna be okay.” Aku meremas lembut tangannya. Ia kembali tersenyum manis. Kali ini dengan mata yang lebih lega beserta setetes airmata jatuh ke pipinya.

 

 

Nikmati hidupmu, Fran. Nikmati kehidupan barumu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s