Trauma #30HariMenulis Hari ke-27

Dulu, saat saya lebih muda sebelum 2008, saat saya tak takut akan apapun, saya merasa ‘trauma’ adalah kelemahan. There’s no such thing as trauma. Bagi saya, teman yang tidak mau melewati jalan tertentu karena pernah ada kejadian ia memergoki pacarnya jalan dengan wanita lain bukan trauma, cuma emang dasar ga bisa move on aja.

 

Lalu kemudian semua berubah ketika (bukan negara api menyerang) April 2008 saya mengalami kecelakaan bersama kakak saya yang sedang mengendarai motor. Saya ada diposisi yang dibonceng dan kakak saya lalu menyenggol kakek-kakek yang bermaksud menyebrang jalan tapi ragu-ragu. Kejadiannya tidak terlalu cepat dan saya masih bisa membayangkan versi slow-motion kecelakaan hari Jum’at delapan tahun lalu.

 

Waktu itu saya memakai kaos pink, cardigan putih dan celana panjang seragam cream. Motor menabrak sesuatu, saya terlempar bermeter-meter jauhnya diatas aspal, begitu juga kakak, motor dan kakek itu. Thank God untuk helm full face yang saya pakai, kalau saya ngga pakai helm itu, entah gimana jadinya bentuk wajah saya sekarang. Posisi saya mendarat hanya sekitar setengah meter dari ban angkot yang kemudian menginjak rem mendadak. Semua pergerakan di sekitar saya berhenti.

 

Saya berdiri sendiri dan tidak menangis, lagipula saya tak tahu apa yang harus saya tangisi. Saya hanya merasa agak kaget. Sakit kaki yang terseret sepanjang saya jatuh di aspal pun belum terlalu terasa perihnya, hanya memang kulitnya sudah mengelupas. Kami melipir ke pinggir jalan.

“Apa yang luka, Dro?” tanya kakak saya. Saya hanya menunjuk kaki. “Lu langsung ke kantor aja pake angkot, ngga apa-apa kan?” Saya menurut saja.

 

Saya tidak sadar bahwa kejadian itu lumayan membekas. Sejak kecelakaan itu, setiap saya menutup mata maka bayangan tabrakan itu yang terlihat. Saya tidak pernah merasa sesulit ini untuk menghilangkan bayangan sebelumnya. Dan semenjak kejadian itu pula saya tidak mau naik motor (dibonceng) di pagi hari. Dulu saya hanya bilang tidak mau untuk menutupi ketakutan saya. Tapi hal itu sudah bisa diatasi karena setiap orang yang mengajak saya pergi pagi hari dengan motor selalu memastikan untuk tidak ngebut.

 

Sekarang, saat tuntutan mobile sudah semakin diperlukan, saya memberanikan diri untuk belajar mengendarai motor. Gas-rem-gas-rem motor matic simple saja sebenarnya. Tapi bayangan kakek-kakek yang melintas menyebrang didepan saya selalu tergambar dan membuat saya tidak fokus. Saya sering mengalami panic attack jika tiba-tiba otak saya terpikir ke hal semacam kecelakaan seperti itu. And I don’t think that’s a good idea. Saya tidak takut akan orang atau hal yang spesifik, tapi saya punya trauma yang tidak bisa dihindari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s