My Summer We’ve Spent #30HariMenulis Hari ke-26

Aku sudah memutuskan untuk menghabiskan liburan musim panas di Indonesia. Aku sedang sedikit bosan dengan liburan musim panas yang hampir selalu dihabiskan di pantai, berapi unggun sambil minum-minum dan berpesta. Aku sedang haus akan pengalaman baru. Dari New York aku pergi sendiri ke Indonesia yang beda 12 jam. Sendirian dari sini tapi disana sudah ada teman yang akan menemani. Namanya Nadya, kami bertemu tahun lalu ketika kami sama-sama sedang melancong di Australia. Kami memutuskan untuk bertemu kembali tapi di negara masing-masing. Kali ini di negaranya, mungkin tahun depan atau lain kali aku yang akan jadi tuan rumah untuk Nadya.

 

***

 

Di jemput di bandara Soekarno Hatta Jakarta tentu saja aku merasakan jetlag. Nadya sepertinya sudah siap untuk menjamuku, tapi aku benar-benar butuh istirahat beberapa lama menghilangkan rasa jetlag. Nadya mengusulkan agar aku beristirahat dulu, jadi kami kemudian pergi ke rumahnya. Rasa panas yang aku rasakan selepas keluar dari bandara benar-benar menyengat, tapi lalu baru beberapa menit masuk taksi hujan malah turun. Aku melongo.

“Di Indonesia bulan ini memang seharusnya musim panas, tapi cuaca disini benar-benar tidak dapat diprediksi. Kamu harus bawa payung dalam tasmu sepanjang tahun.” jelasnya.

“Benar-benar tidak bisa diprediksi?” aku memastikan.

“Ya, kalau di Australia disebut four seasons in a day, disini hanya two seasons in a day.” Ucap Nadya. Aku mengangguk-angguk.

 

Tujuan kami berlibur sebenarnya bukan di Jakarta, tapi di Bandung. Besok, jika aku sudah siap fisik kami akan langsung pergi kesana dengan bus. Sebenarnya ada penerbangan dari Jakarta ke Bandung, hanya saja agar lebih murah (karena aku backpacker kere) aku memilih naik bus saja.

 

***

 

Jam sembilan pagi aku sudah duduk rapi di kursi bus yang sedang melaju menuju Bandung. Aku sangat menyenangi pemandangan hijau di sepanjang jalan. Indonesia ini sepertinya subur sekali hingga semua lahan bisa berrumput dan berdaun-daun hijau. Katakan aku berlebihan, tapi kebiasaan backpacking membuatku menajamkan semua indera dan membuatku menghargai segala hal, termasuk hal terkecil dan paling remeh yang orang jadikan hal paling akhir untuk disyukuri.

 

Hanya membutuhkan waktu tiga jam, kami sudah sampai di Bandung dan hanya tinggal naik angkutan kota untuk menuju ke rumah saudara Nadya. Ya, kami menginap di rumah saudaranya Nadya. Awalnya aku tak enak hati juga, tapi ia bilang rumah itu akan kosong karena penghuni rumah akan pergi ke suatu tempat dalam waktu yang lama, maka keberadaan kami sangat kebetulan bisa sekaligus menjaga rumahnya. Jadi kami memutuskan untuk menempati rumah itu. Kelebihannya; lokasi rumah disebut-sebut sebagai sekitaran pusat kota, yaitu Jalan Wastukencana. Kedua, jelas saja, uang budget hostelku bisa aku hemat. Oh, dan ketiga, karena kurs USD ke IDR adalah 1 USD = Rp 13.300 aku jadi merasa superior! Rasanya semua hal disini sangat terjangkau.

 

Sore pertama, aku diajak Nadya ke pusat kota, ke kantor Walikota Bandung. Dengan berjalan kaki sambil mengobrol, aku bisa merasakan cuaca di Bandung lebih sejuk dari Jakarta. Dan yang lebih kusuka, pohon-pohon disini sangat berguna menyegarkan udara.

“Cathy, jangan berjalan terlalu cepat, kita ini sedang liburan.” Protes Nadya. Aku tertawa saja karena aku sudah sangat terbiasa dengan budaya ‘berjalan terburu-buru’ di New York. “Kakimu juga panjang sekali, aku jadi kesulitan mengimbangi langkahmu.” Katanya lagi. Aku semakin tergelak.

 

Di kantor Walikota yang mereka sebut Balai Kota, aku tidak merasakan ada keseriusan kantor pemerintahan yang berarti karena taman di depan kantor dikunjungi oleh kelompok-kelompok remaja yang sedang bersantai atau melakukan sesuatu. Nadya bilang ini adalah komunitas anak-anak muda Bandung yang berkumpul untuk melakukan apa yang mereka minati. Aku melihat ada remaja-remaja yang sedang berlatih marching-band sebelah sana. Orang-orang yang berlatih modern dance sebelah sini. Kumpulan yang membawa buku-buku sketsa yang sedang serius membuat gambar dari objek sekeliling. Ada juga kelompok yang membawa binatang-binatang reptil kecil.

 

Nadya mengajakku makan cuankie. Ia bilang ini seperti meatball tapi bukan benar-benar meat. Di dalam mangkuk yang diserahkan padaku ada sup bening berisi dua buah baso atau not-so-meatball thing dan beberapa tofu dan dimsum kecil. Rasanya enak. Benar-benar enak lebih tepatnya. Di taman, udara sejuk, menikmati sup hangat, ah nikmat sekali! Lebih nikmat, ketika membayar untuk 2 mangkuk kami jika di dolar kan hanya 1 USD lebih sedikit! Nikmat sekali.

 

Aku menunjuk sebuah tempat diluar pagar taman yang saat lebih gelap mengeluarkan lampu warna-warni. Nadya bilang itu Taman Vanda. Diluar taman ada taman? Luar biasa sekali. Kami lalu menuju kesitu.

“Walikota di Bandung memang sedang membuat perubahan yang besar pada kotanya. Beliau banyak merubah lahan kosong menjadi taman seperti ini agar masyarakat kota lebih banyak berinteraksi di luar rumah.”

“Apa taman-taman ini ada di pusat kota saja?”

“Tidak, taman-tamannya banyak tersebar diseluruh kota.”

“Oh waw, that’s great!” aku mengangguk-angguk.

 

Ketika kami duduk-duduk melihat aksi air mancur berwarna, tak jauh dariku ada beberapa remaja perempuan tersenyum-senyum padaku. Aku membalas senyum. Mereka mendekat

“Can I take pictures with you?” aku kaget. Nadya nyengir dan mengambil ponsel berkamera mereka untuk mengambil gambar kami.

“Sorry, orang Indonesia sepertinya melihat semua bule seakan artis luar negeri.” Kata Nadya saat mereka sudah menjauh. Aku hanya tergelak dan merasa diriku semakin mirip Taylor Swift!

“Hahaha. Tak apa, mereka sangat ramah. Apa disini semua orang ramah?”

“Ya.” Jawabnya. “Untuk di Bandung ini aku rasa penduduknya memang ramah. Orang asing dengan orang asing jika tak sengaja bertemu mata ‘terpaksa’ saling melempar senyum atas nama sopan santun.”

“Waw… I can see that…” aku terkagum.

 

Kami mengobrol beberapa lama lagi hingga saat perut sudah mulai lapar sekira pukul 7 malam. Nadya mengajakku berjalan sedikit menanjak ke kawasan Dago. Di rumah makan yang atapnya rumbai-rumbai kami masuk. Nadya memesankanku makanan karena aku meminta ia memilihkannya untukku. Tak lama pesanan datang dan Nadya menyuruhku makan tanpa sendok. Dengan sedikit acak-acakkan dan ditertawai Nadya yang mulai jahil, aku berhasil menikmati makanan Sunda yang enak dan pedas!

 

Ini baru hari pertama, aku sudah merasa banyak pengalaman baru yang bisa kuserap. Cara mereka menikmati hidup berbeda dengan di negaraku. Jika pelarianku saat suntuk di apartemen dan kantor adalah bar dan minum-minum, disini aku tinggal keluar rumah dan memilih taman mana kali ini yang bisa kukunjungi. Aku bisa langsung mencari teman disini karena semua orang nampak ramah dan welcome. Kuperhatikan juga orang-orang disini lumayan laid-back. Tidak ada jalan utama yang padat di pagi hari oleh orang-orang yang pergi ke kantor.

 

Ini benar-benar baru hari pertama. Aku masih akan mendapat banyak pengalaman baru di dua minggu ke depan. J

 

 

*koq kayak terkesan bersambung gini, ya? :/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s