Politic #30HariMenulis Hari ke-25

Mimpi apa saya ujug-ujug ditantang untuk bikin non-fiksi politik? Hmm…

 

Bahasan politik itu ranahnya luas. Maka dari itu saya mempersempit pembahasan dengan mengambil satu tokoh politik saja untuk dibicarakan. Dari kemarin saya sudah kepikiran untuk bahas sepak terjang Donald Trump saja di bidang politiknya. Kenapa tiba-tiba kepikiran dia? Karena banyak berita dia yang rasanya heboh banget dan saya belum tahu apa-apa tentang dia, yang mana di kesempatan ini jadi bisa baca-baca tentang Trump. I just want to know what to hate and what to like about him *eh!

 

Nah, sampai sekarang saya baru selesai baca-baca banyak artikel tentang Trump, koq rasanya ngga oke banget ya untuk dibahas segitunya..? But… I have no time to do another research, doh! Jadi, baiklah, mari kita –beneran- bahas Donald Trump.

 

Saya rasa Trump ini memang berambisi untuk jadi presiden sejak bertahun-tahun lalu, buktinya ia telah menunjukkan keinginan untuk menjadi orang nomor satu di AS semenjak tahun 1999. Tapi nampaknya angin segar baru menghembus dan menyambut ambisinya itu di tahun 2015 lalu. Kesempatan terbuka lebar bagi Trump saat Partai Republik meminangnya. Bagai gayung bersambut, para pemilih ternyata menyukai dirinya.

 

Namun, pernyataan-pernyataan yang dilontarkannya selama kampanye atau debat dilangsungkan seringkali menuai kontroversi. Hingga membuat para petinggi Grand Old Party (GOP) –nama lain partai republik- ketar ketir melihat sepak terjangnya khawatir calon kandidat lain bisa sampai terprovokasi.

 

Cara bicaranya yang bossy dan kekanak-kanakkan disebut oleh para kritikus sebagai salah satu tanda kelemahan kecil Trump tapi berpengaruh besar akan kelangsungan kehidupan politiknya. Debat antar kandidat seperti ia sepelekan dengan mengeluarkan statement-statement humor namun tidak tepat kondisi dan menyinggung (ya, saya harap dia hanya bercanda). Seperti satu kalimat terkenal  berkomentar

“Lihat mukanya! Ada gitu yang mau memilih dia sebagai presiden? Bayangkan muka seperti itu jadi presiden AS?” ejek Trump pada lawan debatnya, Carly Fiorina yang kemudian membalas.

“Seluruh rakyat AS mendengarnya, Tuan Trump.” Lalu disambut riuh tepuk tangan penonton.

 

Pengusaha real-estate berusia 70 tahun ini semakin dikenal (dan dihujat) karena mengeluarkan statement yang dipandang banyak orang sebagai tindakan rasis. Saat nanti terpilih ia akan menetapkan aturan bahwa negara AS tidak boleh dimasuki orang-orang Muslim dan imigran Amerika Latin. Kontan respon masyarakat AS mengeluarkan kecaman atas rencana-keputusannya, walaupun ada juga dukungan dari orang-orang yang sama rasisnya.

 

Yang menjadi latar belakang penolakan Trump atas kedatangan pendatang Muslim, jelas karena paranoidnya tentang serangan-serangan yang disimpulkan adalah buah dari hasil terorisme ISIS. Satu hal sederhana yang tidak Trump pahami adalah; tidak semua muslim sama dengan anggota ISIS dan teroris.

 

Dan yang jadi latar belakang penolakan Trump atas kedatangan imigran Amerika Latin adalah karena sejarah di masa lalu yang mencatatkan angka kriminalitas bertambah saat orang-orang imigran Amerika Latin berdatangan. Antara lain perampokan, pengedaran obat-obat terlarang, perkosaan, dan lain-lain. Dan satu hal sederhana lagi yang saya yakin juga tidak Trump pahami adalah; tidak semua imigran Amerika Latin adalah kriminal.

 

Atas pernyataan rasis ini, Trump dikecam dan dihujat. Tidak hanya sampai disitu, penghinaan pada beberapa golongan ini menyebabkan banyaknya pemutusan bisnis oleh rekan bisnis Trump secara sepihak yang merugikan banyak materi. Oookay, disini saya belajar bahwa semakin terkenal seseorang, tanpa peningkatan kemampuan pengendalian diri dan kemampuan pengendalian ego yang baik ternyata bisa jadi  boomerang untuk dirinya sendiri.

 

***

 

Namun pada akhirnya, saya rasa politik bukanlah suatu ajang dimana penguasa bisa memilah-milah dan memperbedakan antara satu golongan dengan golongan lainnya atas nama sebuah kebencian pribadi. Politik dalam pandangan saya adalah satu kolaborasi seberagam apapun perbedaannya, ego masing-masing harus dikesampingkan demi kemajuan satu kesatuan negara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s