Lala dan Dudu #30HariMenulis Hari ke-23

Matahari sudah terbenam, pencahayaan dibantu lampu-lampu taman. Dua sejoli yang baru saja jadian mengendarai motor. Sang pengendara kemudian menghentikan laju kendaraannya di sisi taman alun-alun Cimahi.

“Disini aja A?” kata Lala sang pujaan hati agak heran.

“Iya, disini aja, enak kan tempatnya? Lampunya kuning jadi kerasa hangat.” Dudu mencoba romantis.

“Ngga ah, tetep dingin.” Sahut Lala polos sambil merapatkan jaket. Ia turun dari motor, diikuti Dudu yang lalu mengeluarkan borgol dari tas selempang kecilnya. “Eh, mau ngeborgol siapa, Aa?” Lala sontak kaget.

“Ini buat Aa” dengan santai Dudu memborgol dirinya sendiri dan lubang satunya lagi dikaitkan ke stang motor bekjul warna merah putih.

“Biar apa itu teh?” tanya Lala heran.

“Biar aman atuh. Gini-gini juga kristalisasi keringat Aa ini teh.” Dudu membanggakan diri.

“Bekjul ini? Kristalisasi keringat Aa? Sejak kapan?” Lala nampak kaget.

“Sejak sepuluh tahun lalu.” Dudu pikir kali ini Lala akan ikut bangga karea kegigihannya.

“Ya ampun nabung sepuluh tahun cuma mampu beli bekjul?! Aa, step na oge meni ga enakeun.” Lala tidak mampu menutupi keinginannya untuk mencibir.

 

“Ih udah atuh, jangan ngomongin bekjul wae.” Dudu mencoba mengalihkan pembicaraan. Hening sebentar. “Neng meni cantik ih pake baju hejo bagedod, lipstick merah moronyoy.” Puji sang arjuna.

“Makasih Aa.” Lala tersenyum lebar, di rentetan giginya menyelip sesuatu berwarna hijau.

“Neng, tadi teh kita makan apa ya?”

“Nasi padang Aa, meni udah lupa. Baru juga tadi makan.”

“Oh pantes, itu ada daun singkong nyelip di gigi Neng.” Dudu jujur.

“Euleuh Aa, Neng meni malu!” Lala buru-buru mengeluarkan cermin somplak patahan dari compact powder Meybelin. “Ih iya ih, malu Aa.” Lala mendadak heboh sambil membersihkan giginya.

“Ngga apa-apa atuh, da Aa tetep sayang.”

“Bukan gitu, tadi teh Neng beli tissue ke pedagang asongan meni kasep, terus Neng senyumin pantesan langsung buang muka! Aa… Neng malu!” Lala menutup muka.

“Ih kamu mah udah jadi pacar Aa juga meni masih ngeceng yang lain.” Keduanya terhening dalam pikiran yang berbeda.

 

Lala dan Dudu adalah sepasang kekasih yang bodor. Lala yang ceplas-ceplos dan polos kadang menyakiti hati Dudu yang sensitif. Sementara Dudu yang belum pernah pacaran mencoba begitu kuat untuk tetap memiliki Lala karena sudah saking sayangnya. Karena ini pengalaman pertama Dudu pacaran, ia tidak tahu apa yang harus dibicarakan atau dilakukan dengan pacarnya. Setelah lama saling terdiam, Dudu memaksakan diri untuk mengobrol.

“Neng suka maen keong?” tanya Dudu. Lala mengerutkan kening sebentar.

“Suka, dirumah kalo Abah lagi cuci motor keong-keongnya teh suka naik ke motor. Ada banyak, suka Neng mainin.” Dudu mengangguk-angguk, berharap Lala melempar pertanyaan yang sama.

“Kalo Aa suka ngadu bagong?” tanya Lala polos

“Astaghfirullah Neng! Emang Aa keliatan kayak tukang bagong?”

“Terus emangnya Neng keliatan kayak tukang keong?” Lala emosi.

“Ih ya engga. Please, jangan salah paham dulu Neng, Aa bisa jelasin…”

“Pokoknya anterin Neng pulang sekarang!”

“Iya atuh iya, hayu.”

 

***

 

Di rumah Lala, Abah (Ayah) sudah stand by di kursi halaman depan.

“Neng itu bapak kamu?” tanya Dudu sesampainya didepan rumah, suaranya tiba-tiba gemetar.

“Iya.” Jawab Lala enteng.

 

“Pulang sama siapa kamu Lala?” tanya Abah dengan suara beratnya yang galak.

“Ini Dudu, Bah.” Jawab Lala. Dudu menyodorkan tangan untuk bersalaman.

“Saya Dudu, Pak. Pacarnya Lala.” Dudu memperkenalkan diri dengan pede.

“Pacar?!” Abah terhenyak.

“Ih gini Abah…” Lala mencoba menjelaskan sesuatu. “Abah tolong putusin Dudu lah dari Lala.”

“Naha kunaon kitu?” Abah lebih kaget. Apalagi Dudu.

“Soalnya kukunya teh pada item. Ih jorok. Lala ngga tega bilangnya.”

“Ini kan kamu bilang di depan Dudu!” Abah mengingatkan. Mata Dudu berkaca-kaca tereh leweh.

“Oh iya ya… Nya kitu weh lah pokonya. Bilang aja mau fokus dulu belajar.”

 

Bagai disambar petir di siang bolong, hati Dudu di patahkan oleh Lala yang baru sehari kurang menjadi pacarnya. Karena sangat kecewa, lalu ia menjual motor bekjulnya saat itu juga dan pergi ke airport. Ia mengganti nama menjadi Mario Bros dan bermaksud pergi ke tembok China untuk membenturkan kepala satu-satunya itu.

 

-sekian capruknya-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s