Bedanya #30HariMenulis Hari ke-21

Saya terlahir dari keturunan Padang dan Garut tapi dari lahir, tumbuh, sekolah, cari duit ya di Bandung. Susah juga sih kalo ditanya bisa bahasa Padang ngga? Atau bisa basa Sunda ngga? Jawabannya ngga untuk kedua pertanyaan tersebut *ditombak leluhur Padang dan Sunda*. Masalahnya, karena dari kecil memang selalu dibiasakan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Jikapun saya berbasa Sunda yang sebagian besar saya dapat dari pergaulan teman-teman sehari-hari, ya basa Sunda kasar. Bukannya bilang “Punten eta mastakana, abi kahalangan” saya malah bilang “Punten eta huluna, abi kahalangan.” Hahaha! Makanya saat berbicara dengan orang yang tidak terlalu dekat atau orang asing sama sekali, saya pakai bahasa Indonesia aja biar aman walaupun lawan bicara pakai basa Sunda. But no, saya bukan akan membahas tentang bahasa *ngga akan bahas bahasa tapi udah satu paragraf panjang -_-

 

Ceritanya, semasa saya masih dalam kandungan usia tujuh bulan, ada adat atau kebiasaan Sunda yang namanya ngarujak tujuh bulanan. Rasa rujak tersebut katanya akan mewakili budi atau sifat anak yang dikandung kelak. Rujak saya, rasanya kurang manis. Jadi ‘diramalkan’ saya akan jadi anak yang judes, jarang senyum. Jauh sebelum saya tahu cerita itu yang berarti bukan sugesti si rujak, saya memang jadi anak yang jutek, jarang senyum dan pendiem. Nampaknya, mitos itu terbukti.

 

Bagusnya, saya lahir di Bandung, tanah Sunda yang terkenal dengan keramahan masyarakatnya. Sepanjang masa kecil dan sebagian masa sekolah sih saya memang sangat tertutup dan judes. Saya lebih milih menundukkan kepala daripada harus bertemu pandang dengan orang lain dan terpaksa tersenyum. Tapi Mama bilang “Cewe itu ngga boleh judes, nanti susah dapet pacar!” Nah kan horror banget kalo susah dapet pacar hahaha! Jadi dengan sangat berat hati sedikit demi sedikit saya mencoba merubah sifat. Lebih banyak melakukan kontak mata, senyum, ketawa dan ngabodor. Iya, ngabodor! Gini-gini juga entah kenapa kalau ngobrol sama teman-teman dekat, tiap saya nyeletuk pasti bikin yang lain pada ketawa. Mungkin mereka pikir pikiran sarkastik saya becandaan, padahal serius! Hehe!

 

Perubahan saya cukup oke kalau saya membandingkan saya yang dulu dan saya yang sekarang. Lebih santai dan ngga selalu pasang muka kenceng, lebih ‘cengengesan’ dan lebih humoris. Dan perang batin *uhuk* dimulai ketika saya mempunyai pekerjaan baru. Suatu ketika, saya dapat job desc baru sebagai surveyor konsumen yang tersebar di Bekasi dan Cirebon. Dalam satu minggu, saya diharuskan keluar kota dua kali dan saya sama sekali ngga mengira akan menghadapi gegar budaya di negara sendiri.

 

Walaupun saya sering jalan-jalan keluar kota, jujur, saya ngga banyak memperhatikan warga sekitar kota-kota tersebut. Karena saya biasanya pergi bareng banyak teman dan asyik aja gitu sama mereka, jadi saya ngga terlalu melihat perbedaan mereka dengan masyarakat Sunda di sekitar saya. Pengalaman yang saya dapat memang ngga bisa dipukul rata bahwa sebagian orang yang saya temui berarti merepresentasikan semua masyarakat seluruh kota. Ini mah kan cuma cerita saya 😀

 

Lalu menurut pengamatan saya setelah berkali-kali bolak-balik dua kota itu; Cirebon masih oke lah, disana orang-orangnya automatically tersenyum manis ketika saya izin masuk ke tokonya dan ngajak ngobrol. Bekasi? Hmm… stelan wajah default orang-orang nampaknya kenceng-kenceng dan… sebagian besar tidak ramah. Hiks! Pertanyaan “Ada apa ya?” mereka berbeda dengan “Ada apa ya?” di Bandung yang ditambah logat mengayun dan senyum lebar. Mendapat ‘sambutan’ yang lumayan mengejutkan sejujurnya saya ciut juga, jadi pengen pundung dan lari masuk mobil langsung pulang ke Bandung padahal saya kan orang jutek juga! Ternyata orang jutek, ngga suka juga kalau dijutekin orang lain. Hahaha

 

Well, pada akhirnya saya sadar tradisi dan adat dimana kita berada bisa jadi faktor utama pembentukkan pribadi kita sebagai orang bermasyarakat. Bisa jadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s