Cell-phone, literally #30HariMenulis Hari ke-20

Gadget adalah suatu rancangan terbaru alat elektronik yang lebih praktis dan lebih baik dari teknologi yang sudah ada sebelumnya. Dalam hal ini, berarti kontinuitas pembaruan alat-alat elektronik dengan teknologi teranyar pastilah akan selalu ada. Kepraktisan pastilah sangat di junjung tinggi dari prinsip pembuatan gadget ini. Contoh-contoh ‘peringkasan’ teknologi yang telah dibuat antara lain telepon genggam yang semakin lama semakin berbentuk kecil dengan lebih banyak aplikasi di dalamnya dan laptop atau notebook yang semakin lama semakin ringkas dari ide utamanya yaitu seperangkat PC dan monitor. Dan yang jelas semakin membantu penggunanya.

 

Kali ini kita diminta untuk membayangkan hidup di dunia tanpa gadget. Tapi pertama-tama mari kita ingat-ingat apa saja kemudahan yang sudah diberikan gadget untuk keseharian kita. Dengan satu unit laptop, kita bisa melakukan pekerjaan komputerisasi dimana saja, tanpa harus stuck di suatu tempat karena wujud fisiknya yang sangat praktis dan moveable daripada seperangkat PC dan monitor. Bagaimana dengan cellphone atau ponsel? Hmm… ini akan mengurai lumayan panjang.

  1. Mendengarkan musik dulu harus melibatkan kaset pita dan tape recorder atau walkman yang agak lebih canggih.
  2. Menonton film dulu harus melibatkan TV, VCD dan player-nya.
  3. Mengontak orang-orang dulu harus melibatkan fisik buku telepon dan pesawat telepon atau kertas, pena dan jasa pos.
  4. Membaca berita dulu harus menunggu loper koran mengedarkan harian terbaru pagi-pagi.
  5. Membuat musik dulu harus melibatkan banyak instrumen musik di studio dengan segala perangkat mixer.
  6. Memfoto atau mengambil gambar dulu harus memakai kamera Kodak yang juga harus diisi dulu film klise negatif dan belum sampai disitu, karena setelah klise terisi gambar-gambar yang diambil, harus melalui proses afdruk agar menjadi foto. Sedihnya kalau sudah ambil banyak foto tapi hasilnya terbakar atau gagal L
  7. Mencari arah atau tempat dulu harus melibatkan kompas dan peta.
  8. Transaksi bank dulu harus repot-repot pergi ke bank, mengantri dan berbasa-basi dengan Mbak/Mas Teller.
  9. Kalkulator, kalender, jam, kompas, lampu senter, pengecek suhu, penyimpan catatan dulu melibatkan bendanya tersendiri dengan masing-masing fungsi diatas.

Bayangkan, kesemuanya itu sekarang bisa dilakukan hanya dengan satu benda kecil sebesar genggaman tangan.

 

Cara berkomunikasi masyarakat sekarang sudah sangat berbeda. Dari satu murid ke murid lain saat lupa bagaimana cara memecahkan suatu tugas Matematika, mereka lebih memilih memfoto buku catatannya dan mengirimkannya by BBM atau Whatsapp daripada keluar rumah dan mendatangi rumah teman. Memberi pujian hanya sebatas menyentuh icon like daripada langsung berbicara pada orang yang dimaksud dan memberi sanjungan. Bahkan ketika musim ujian, sepupu saya memfoto soal pilihan ganda tes Bahasa Inggris dan mengirimkannya ke BBM saya untuk meminta jawaban *tepok jidat*. Yang jadi pertanyaan saya, koq sempat-sempatnya? *tepok jidat lagi*. Rasa simpati kemanusiaan pun sekarang hanya berwujud status-status yang diposting di media sosial.

 

Saya pribadi juga kadang merasa terlalu diperbudak dengan ponsel. Karena setidaknya, pekerjaan pun banyak saya lakukan dengan ponsel. Kurang dari lima menit sekali saya hampir selalu cek notif ponsel seakan dunia saya hanya tertuju pada benda itu. Dan sejujurnya, somehow, itu membuat saya tidak nyaman.

 

Sekarang coba bayangkan saat semua gadget di dunia ini… lenyap.

Ya… gitu lah. Kita akan kembali mempunyai banyak hal; tape recorder, kaset, VCD, buku telepon, pesawat telepon, koran, kamera dan lain-lain. Kita akan lebih banyak bersosialisasi dengan teman, kita akan banyak menunggu balasan surat yang diantar Pak Pos, kita akan menjalankan peran manusia sebaik-baiknya sebagai makhluk sosial. Kita akan lebih banyak mendaki gunung daripada hanya me-like gambar-gambar bagus di Instagram dan bilang ‘Ah, I wish I was here’.

 

Tapi, kelihatannya saat ini keberadaan gadget malah akan lebih merajalela. Dan menurut saya benar bahwa ada makna yang tersembunyi di otak penemu ponsel dengan menyebutnya cell-phone, because people are prisoners of their phones. That’s why they are called Cell Phones.

 

Get off your phone and go outside.

 

cell phone

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s