Auschwitz, 1940 #30HariMenulis Hari ke-18

gerbang.jpg

Semuanya berawal dari kesukaan saya terhadap Anne Frank, seorang penulis diary muda yang bercita-cita menjadi penulis, lalu akhirnya saat ia meninggal kumpulan tulisannya dibukukan oleh sang Ayah. Tulisannya sangat oke untuk seukuran gadis belasan tahun, sangat mengalir dan lembut. Awalnya saya hanya pernah membaca buku tipis mengenai keseharian Anne saat bersembunyi di loteng rumah kerabatnya dan saya belum punya gambaran jelas mengenai keterkaitan Anne Frank dengan sejarah.

 

Sampai beberapa bulan kemarin saya mencari sumber film sejarah Anne Frank dalam kurun waktu kepemimpinan Adolf Hitler di Jerman. Saya ‘terdampar’ pada film dengan durasi tiga jam lebih yang menguras air mata. Dalam perspektif yang mengutamakan cerita keluarga Otto Frank (ayah dari Anne Frank) saya bisa melihat bagaimana perlakuan Nazi dibawah kepemimpin Adolf Hitler memerintah pada saat itu dalam kurun waktu 1934 sampai 1945.

 

Yang saya tangkap dari film drama-sejarah ini, Nazi mulai mendata seluruh warga Jerman dengan ‘mensortir’ mereka by agama dan ras. Warga Yahudi diberi emblem/lambang Hexagram yang ditempel pada jas atau jaket mereka yang harus selalu dipakai jika keluar rumah. Tujuannya agar lebih mudah dikenali. Sementara warga selain Yahudi tidak diberi tanda apapun. Semenjak pemisahan seperti itu, kaum Yahudi disana mulai mengalami bullying. Anak kecil saling mengejek, sesama penduduk saling menghancurkan rumah dan mempermalukan kaum Yahudi. Perbedaan ras dan agama benar-benar dijadikan issue utama dalam bermasyarakat.

 

Singkat cerita, suatu waktu pemerintah menyebar ‘undangan’ pada seluruh kaum Yahudi untuk mendatangi Auschwitz dimana skenarionya dalam undangan tersebut mereka diiming-imingi pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Tentu saja itu menarik dan membuat banyak orang Yahudi menghadiri undangan itu. Tapi rupanya itu adalah undangan paksa, karena sampai hari deadline pemenuhan undangan, seluruh kota di sapu bersih oleh tentara-tentara Nazi untuk menyeret paksa kaum Yahudi untuk pergi ke Auschwitz.

 

Keluarga Anne Frank dan kerabat dekatnya berhasil disembunyikan di loteng sebuah bangunan kantor oleh beberapa teman Non-Yahudi selama beberapa bulan. Mereka bertahan di rumah yang pengap, tidak bebas dan sama sekali tak tahu kapan bisa bebas. Hingga akhirnya… ada kebocoran informasi yang mengatakan bahwa beberapa Yahudi tertinggal dan bersembunyi di loteng itu. Semua terbongkar. Semua ditendang secara paksa diberangkatkan ke Auschwitz.

 

***

 

Kamp itu dinamakan kamp konsentrasi. Bagi saya, itu merupakan kamp pembantaian. Orang-orang Yahudi datang dari berbagai negara selain Jerman demi kehidupan yang lebih baik yang tanpa mereka tahu, ini adalah peristiwa yang akan merenggut sebagian besar nyawa mereka. Di suhu yang sangat dingin, para pendatang baru turun dari kereta dengan dibentak tentara-tentara Nazi dan dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu pria, wanita dan anak-anak. Mereka dipisahkan dengan bawaan mereka masing-masing, disuruh melepaskan baju, melepaskan perhiasan dan dibotaki. Tanpa terkecuali.

 

Pria dan wanita yang dilihat bisa dipekerjakan mereka ‘gunakan’ untuk kelangsungan perusahaan industrial. Bagi anak-anak dengan ciri tertentu, mereka dibuat sebagai eksperimen medis percobaan untuk sinar X pembuat kemandulan dan macam obat lain. Wanita hamil dan orang tua di paksa masuk ke sebuah ruangan yang dinamakan gas chamber. Dimana setelah ruangan tersebut terisi, gas beracun kemudian dialirkan dan membiarkan orang-orang didalamnya meninggal saat itu juga. Tidak sampai disitu, orang-orang yang sudah meninggal ataupun masih sekarat meregang nyawa kemudian dimasukan ke crematorium alias dibakar!

 

Orang yang masih dibiarkan hidup, ternyata tidak mengalami nasib yang lebih baik dari mereka yang berakhir di crematorium. Mereka dipaksa bekerja belasan jam setiap harinya, tanpa upah. Tanpa diberi makanan yang pantas apalagi bergizi. Tanpa fasilitas MCK yang higienis. Tanpa tempat tidur yang layak. Mereka tidur di barak berisi rak tiga susun yang masing-masing tahap berisi enam sampai tujuh orang. Kebanyakan dari mereka akhirnya berjatuhan meninggal akibat kelaparan dan terjangkit wabah penyakit.

 

Atas nama kebencian Adolf Hilter kepada kaum Yahudi, ia melakukan pembersihan ras ini. Peristiwa ini merenggut nyawa sebanyak dua per tiga dari sembilan juta orang Yahudi yang hidup pada saat itu. Tidak semua orang yang berada di kamp konsentrasi berakhir dengan kematian. Bagaimana dengan yang lainnya? Mereka akhirnya dibebaskan pada tanggal 27 Januari 1945, yang pada saat ini ditetapkan menjadi “Hari Peringatan Korban Holocaust”.

 

***

 

Just when I thought desperately ‘what kind of world we live in?’ saking patah hatinya dengan sejarah ini, kemudian saya mendapat suatu link yang bercabang menjadi banyak link yang menuliskan penyangkalan tragedi Holocaust. Sebuah buku berjudul The Holocaust Industry dari Norman G. Finkelstein dalam sinopsisnya mengungkap bahwa keberadaan holocaust hanya sekedar mitos. Peristiwa pembantaian jutaan Yahudi tak lain hanyalah ‘kebohongan’ terorganisir dan tercanggih di abad ini, dilengkapi pula dengan seluk beluk perhitungan logis berapa lama dan berapa kamp yang sebenarnya dibutuhkan untuk membunuh enam juta Yahudi.

 

 

Dan… ini malah membuat perspektif saya semakin buruk lagi.

Dunia macam apa yang kita tinggali yang bahkan sejarah pun bisa dikarang dan/atau disangkal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s