Exorcism #30HariMenulis Hari ke-13

Aku sebagai murid baru sebuah SMP di Bandung yang masih agak takut-takut ketika harus pergi sekolah untuk mengikuti MOS pertama, membiarkan Mama mengantarku ke sekolah. Karena MOS adalah masa menyusahkan, murid-murid baru diminta datang jam setengah enam. Otomatis Mama dan aku pergi jam lima subuh kurang. Aku masuk gerbang dengan masih menggunakan atribut SD, aku berbalik dan melambaikan tangan ke arah Mama. Mama masih diam didepan gerbang memandangiku tersenyum sambil membalas lambaian tanganku. Suasana masih biru gelap dan dingin. Aku bergegas saja masuk ke kelas baruku.

 

***

 

Siang itu, lebih dari jam dua aku baru akan sampai ke rumah ketika seorang tetanggaku bilang

“Yuri, cepat pulang, Mama kamu sakit tuh…” Deg! Jantungku tersentak. Tanpa menjawab apapun, aku segera mempercepat langkahku. Diluar rumah sudah banyak sandal dan membuatku semakin panik. Membuka pintu, orang-orang memenuhi ruang tamu dan disana Mama direbahkan di kursi panjang seakan menjadi tontonan. Ada apa ini?

 

“Eh Yuri udah pulang, laper nak?” raut wajah Mama sangat berbeda dari biasanya.

“I… iya ma” jawabku gelagapan.

“Ganti baju dulu ya” aku menuruti dan segera masuk kamar. Salah satu tetangga yang paling dekat sudah ada di kamarku terlebih dahulu.

“Ada apa sih?” ujarku sambil ganti baju. Setidaknya denyut jantungku melambat melihat Mama baik-baik saja. Bayangan terburukku tadi sudah hilang. Aku bahkan tak bisa menyebutkan apa yang kubayangkan tadi.

“Mama kemasukan setan” jawabnya dengan wajah ngeri.

“Siang-siang begini?” tanyaku tak percaya.

“Dari tadi jam sembilan pagi!”

 

“Hihihihihihi…” jerit sesuatu dari tubuh Mama tiba-tiba. Lengkingannya sangat keras dan aku yakin pasti terdengar sampai keluar rumah. Aku membelalakan mata kaget.

“Dari tadi kayak gitu terus. Pak ustadz aja ga bisa sembuhin.” Ujar tetanggaku lagi. Aku keluar kamar. Di kursi selain Mama, ada Pak Ustadz dan dua kakak lelakiku. Penampilan Mama sangat berantakan, tubuhnya tak bisa diam dan matanya melotot beringas.

“Nama saya Nancy. Dulu dua puluh lima tahun yang lalu, saya lewat Jalan Kelenteng malem-malem.” Jalan Kelenteng adalah nama jalan sekolah SMP-ku. “Saya diperkosa sama tiga orang laki-laki biadab disitu. Sekuat apapun saya berontak, mustahil saya bisa melepaskan diri. Saya…” kalimatnya terpotong, Mama mulai menangis. Benar-benar mengeluarkan air mata paling pedih. Aku tak bisa menahan air mataku juga. Antara sedih mendengar cerita itu dan sedih melihat keadaan Mama.

“Saya hanya ‘dibayar’ rokok Dji Sam Soe setengah bungkus dan ditinggal begitu saja. Saya putus asa. Saya bingung harus gimana. Saya malu kalau harus pulang ke keluarga saya dengan keadaan begitu.” Mama menutup wajahnya, menangis lagi. Aku iba.

“Akhirnya saya putuskan untuk gantung diri. Di pohon waringin situ. Pake tali rapia merah.” Aku merinding dibuatnya. Pohon itu masih ada didepan sekolahku. Mama tersenyum sinis.

“Tapi tugas saya belum selesai. Saya mau balas dendam sama semua laki-laki itu. Saya sudah ngebakar rumahnya sampai dia mati didalam. Satunya lagi saya balikkan mobil yang sedang dipakainya. Tinggal satu yang belum saya bunuh.” Oh my God.

“Saya perlu ada yang bantu untuk ngebunuh yang satu itu. Saya milih orang ini untuk menemani saya. Sini mana tali rapia merah! Saya cekik orang ini!” ucapannya makin buas. Mama mencekik dirinya sendiri dan menjulur-julurkan lidah. Semua orang panik dan memegangi tangan Mama mencegah menyakiti dirinya sendiri.

“Jangan!!” jeritku sambil menangis histeris. “Jangan…” tetanggaku menenangkanku.

 

“Kita sudah beda alam, jangan mengganggu. Orang ini punya anak yang masih kecil-kecil perlu diurus.” Ucap Pak Ustadz. Beliau lalu meniup kepala Mama sambil membacakan doa, juga mengusapkan air yang sudah diberi doa ke wajah Mama. “Sudah, keluar sekarang dari badan ini. Dia sudah capek diganggu kamu dari pagi.”

“Hihihihihihi…” lengkingan suara itu perlahan mereda. Mama kemudian seperti bangun dari tidur tapi dengan wajah ketakutan.

“Masih ada. Masih ada disini.” Kata Mama.

“Ngga. Udah pergi koq.” Ujar Pak Ustadz.

 

Berangsur-angsur tetanggaku pulang, begitu juga Pak Ustadz pamit pulang. Hanya tersisa Mama, aku dan kakak-kakakku. Hari cepat sekali menjelang ke jam malam. Aku sejujurnya masih ketakutan dan tak berani memandang mata Mama. Lain kali, aku bersumpah aku tak akan pernah meminta Mama mengantarku lagi pergi sekolah.

“Sini tidur sama Mama. Mama udah ngga apa-apa koq.” Mama melebarkan tangannya bersiap merangkulku. Masih ada yang aneh dengan Mama, tapi aku mengabaikan perasaanku dan pergi tidur dengannya.

 

Aku merasa sangat lelap sekali. Seakan tak ada yang terjadi sebelumnya dan tak ada beban didepanku. Lewat tengah malam, aku menyadari ada pergerakan disampingku. Mungkin Mama pegal semalaman memelukku. Aku tetap tertidur. Sedetik kemudian mulutku dibekap oleh tangan Mama. Mataku kontan terbelalak dan kepanikan menyerang membuatku berteriak. Percuma saja, tak ada suara keluar dari mulutku.

“Ssst…” bisik Mama dengan mata yang mengilat jahat. Ini bukan Mama. Satu tangannya sampai di leherku dan mulai mengencangkan cengkraman mencekikku. Aku meronta. Tak ada siapapun yang menyadari perjuanganku untuk tetap bernafas. Semuanya terlelap kecuali aku dan sesuatu yang ada didalam Mama. Bukan Mama.

 

Akhirnya aku kehabisan nafas. Sudah tak bisa lagi memperjuangkan hidup. Mataku terbelalak di akhir hidup. Paru-paruku kosong. Jantungku melambat… lalu berhenti…

 

 

*90% kisah nyata 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s