Me in Linguini #30HariMenulis Hari ke-11

linguini---photos.jpg

Hari itu ketika aku melihat raut wajah Skinner berubah sewaktu ia membaca surat dari mendiang ibuku, aku curiga. Aku mengintip juga saat ia bicara dengan pengacaranya diruangan pribadi Skinner, aku curiga. Walaupun aku tidak bisa mendengar percakapan mereka, aku rasa mereka sedang membicarakanku. Tapi aku pura-pura sedang sibuk dengan pekerjaanku. Jika apa yang mereka bicarakan adalah tentangku, pasti cepat atau lambat Skinner akan memanggil.

 

Dengan segala kemampuanku berkat Remy, si tikus yang mengendalikanku dari dalam topi chef, aku tahu Skinner tak akan bisa membuangku bagaimanapun bencinya dia terhadapku. Setelah sup ku (sup Remy) berhasil membuat seorang kritikus memuji Gusteau’s Restaurant, posisiku semakin kuat disini. Aku tak akan kehilangan pekerjaan ini.

 

“Linguini!” panggil Skinner ketika aku bersiap untuk pulang. Dengan gerakan jarinya, ia memerintahkanku untuk masuk ke ruangannya. Ia sudah menyiapkan sebotol wine dan 2 gelas saat aku masuk. “Duduklah, kau pantas merayakan keberhasilanmu.” Aku duduk dengan kikuk. Ia segera menuangkan anggur kedalam gelas-gelas tadi dan menyerahkannya padaku.

“Oh terima kasih.” Ujarku.

“Tak usah sungkan.”

 

Berpuluh-puluh menit kemudian aku sadar bahwa Skinner tengah mencoba membuatku mabuk untuk mengorek rahasia-rahasiaku. Itu terlihat ketika ia bertanya tentang keberadaan tikus yang ada disekitarku. Aku sangat suka wine dan tidak mudah mabuk hanya dengan beberapa gelas. Sebaliknya, hanya dengan lima gelas kurang lebih, wajah Skinner sudah memerah dan pembicaraannya mulai melantur.

 

“Bagaimana menurutmu tentang tikus yang ada di dapur ini? Beberapa orang telah melihatnya.” Ungkapnya.

“Emm… aku tidak melihat tikus apapun.” Jawabku berbohong dan terkendali.

“Benarkah? Kalau begitu kurasa aku harus menyempatkan waktu untuk membersihkan dapur ini secara detail.”

“Begitu ya…” aku meragukannya. “Kemarin yang berbicara denganmu disini, apakah itu pelanggan restoran ini?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Bukan, itu pengacaraku.” Jawabnya enteng.

“Oh, memangnya sedang ada masalah apa dengan restoran ini?” tanyaku lagi mencari tahu.

“Bukan dengan restoran ini sebenarnya, tapi tentang pewaris restoran ini.”

“Oh, begitukah?”

“Ya, surat darimu menuliskan bahwa kau adalah pewaris tunggal dari Gusteau’s Restaurant. Aku seketika panik, lalu aku mencari kebenarannya dengan membawa pengacara itu kesini.” Ceritanya. Aku terkesiap, pusing karena terlalu banyak minum tidak lagi bisa kurasakan.

“Lalu?” tanyaku penasaran tanpa meninggikan suaraku.

“Hasilnya ternyata DNA-mu dan Auguste cocok. Kau memang anak dari pemilik restoran ini.”

“Dimana hasil test itu?” jantungku berdegup kencang karena takut Skinner segera sadar sebelum aku mendapat semua informasi yang kubutuhkan.

“Ada di laci mejaku” jawab Skinner. Posisi duduknya sudah melorot dari kursi. Dengan perlahan aku menghampiri laci mejanya dan mengambil surat hasil test yang berada ditumpukkan teratas. Bodoh sekali Skinner ini!

“Kapan rencananya kau akan mengumumkan ini pada karyawan restoran?” bahwa aku adalah pewaris tunggal dan pemilik restoran ini sekarang.

“Oh tidak… tentu saja aku tak akan memberitahukan ini kepada siapapun! Apa kau bercanda?” ungkap Skinner dalam mabuknya. Brengsek! Aku beranjak dari kursi kemudian mengambil botol wine yang sudah kosong dan membenturkannya ke kepala Skinner hingga pecah. Ia malah tertidur. Aku melangkah meninggalkan ruangannya dan dari arah belakangku Skinner mengerang kesakitan.

“Aarrghhh… sakit sekali kepalaku!” lalu kembali tertidur.

 

***

 

Pagi-pagi sebelum semua mulai bekerja, aku mengumpulkan orang-orang, termasuk Skinner yang nampak agak kacau.

“Teman-teman dengar! Aku punya berita!” Semua mata tertuju padaku tapi tak mendekatiku. “Aku adalah pewaris tunggal restoran ini.” Ucapku lantang.

“Apa? Jangan bercanda Linguini, ayo cepat bekerja.” Sahut Collete salah satu temanku. Aku melihat mata Skinner terbelalak. Aku mengeluarkan surat hasil test DNA dan membacakannya untuk semua orang.

“Apa-apaan kau ini Linguini?!” sergah Skinner yang mencoba merampas surat itu dari tanganku.

“Aku memberitahu hal yang sebenarnya yang tak akan pernah kau ungkapkan pada siapapun demi kepentinganmu sendiri!” aku balik menyergah. Semua orang berwajah kaget. Skinner menjadi salah tingkah. “Jadi, kapan kau akan meninggalkan ruanganmu? Itu secara langsung sudah menjadi ruanganku, bukan? Ruangan pemilik restoran ini.”

“Aku… aku…” ia gelagapan.

“Dengar Skinner, aku menghargai kejujuranmu saat kau mabuk, tapi aku tak menyukai idemu untuk menutupi kebenaran ini. Baiklah, aku tak sejahat itu. Kau masih bisa mengelola tempat ini, tapi dengan perintahku.” Temanku yang lain hanya jadi pendengar setia.

“Aku tak sudi!” jawab Skinner tak kuduga. “Kau hanya tukang sampah yang kebetulan membuat sup yang enak! Kau bukan siapa-siapa!” ia murka.

“Hey Skinner! Kau tak bisa mengatakan itu! Faktanya ia memang keturunan Auguste Gusteau!” bela Collete.

“Diam kau!” Skinner benar-benar marah dan menerjangku mencoba untuk mencekik leherku. Suasana menjadi kacau, semua orang memisahkan aku dan Skinner. Aku terengah-engah dan emosi.

“Kau!” ucapku ditengah nafasku yang berat “Kau tinggalkan restoran ini segera!” hardikku akhirnya. Merasa sangat terhina, Skinner melepas topi chef dan melemparnya ke lantai. Dengan wajah sangat kesal, ia meninggalkan restoran.

 

Dua detik setelah Skinner tak terlihat, teman-temanku bersorak.

“Yay! Kita punya boss baru!” seru mereka.

“Ayo cepat kita bekerja!” ucap salah satunya.

“Emm tidak tidak… hari ini kita tidak akan buka untuk umum.” Kataku santai. Semua mata menoleh lagi ke arahku. “Hari ini kita akan memasak apapun yang kita inginkan untuk kita makan sendiri! Singkatnya…” aku menahan kalimat penutupku. Semua nampak antusias “Kita berpesta!!!” aku bersorak dan disusul teriakkan teman-temanku.

“HORAY!”

 

 

 

*kalo gw jadi boss, akan begini kayaknya perusahaan gw. Seenaknya! 😀

**cepet bangkrut, niek!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s