Amy #30HariMenulis Hari ke-10

Aku berhasil meyakinkan Amy untuk bersembunyi, menikah dan menetap denganku di Indonesia. Saat itu awal 1942 ketika orangtua dan sanak saudara Amy sebagai orang-orang Belanda sudah meninggalkan Indonesia karena dipaksa kedudukan Jepang. Amy dengan penuh kesadaran ketika itu memilih untuk tidak meninggalkan Indonesia, tidak meninggalkan aku. Tentu saja karena kami tinggal di kota besar, aku harus menyembunyikan keberadaan Amy. Penjajah dari Jepang lebih memfokuskan pembersihan penduduk di kota-kota besar dahulu. Mereka ingin semua orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda disingkirkan, bagaimanapun caranya.

 

“Ini tak akan lama.” Ujarku menenangkan ketika ia bertanya harus berapa lama lagi ia disembunyikan dan tak bertemu matahari. Padahal aku tak tahu kapan serangan Jepang ini akan berakhir. “Atau mungkin kita bisa pindah ke kota lain.” Sambungku. Kalimat tadi segera kusesali karena sekali aku meninggalkan Bandung, aku akan kehilangan pekerjaanku.

“Baiklah, aku ingin kita pindah saja dari Bandung, Ben.” Serta-merta Amy menyetujui ucapanku yang tidak serius tadi…

 

***

 

Amy adalah cinta pertamaku. Aku menemukan senyum cemerlangnya beberapa tahun lalu saat kami sama-sama 18 tahun. Aku sedang mengangkut hasil panen dan ia sedang bermain di halaman luas depan rumahnya bersama saudara-saudaranya yang lain kala itu. Dengan nekat aku mendekati rumahnya di saat yang berbeda. Ia sedang duduk-duduk saja di pinggir kolam air mancur yang juga ada di depan rumahnya. Dibalik semak-semak aku bersembunyi dan memanggil Amy yang belum kutahu namanya.

“Nona!” teriakku dengan nada berbisik. Ia seketika menoleh dengan wajah terheran-heran.

“Ya?” jawabnya.

“Bisa Bahasa Indonesia?” tanyaku.

“Ya.” Jawabnya lagi dengan mantap.

“Bolehkah saya tahu nama Nona?” aku menyeringai khawatir akan diteriaki maling atau semacamnya.

“Oh tentu. Saya Amy. Kamu siapa?” Bahasa Indonesia-nya baik dengan aksen yang kental.

“Saya Beni. Saya tinggal di sekitar belakang rumah ini.” aku menunjuk rumah besarnya. Dia diam sebentar seperti memikirkan sesuatu lalu beranjak dari duduknya dan menghampiriku yang masih di posisi hampir tiarap tertutupi dedaunan.

 

Sore itu menjadi sore hangat yang indah berbicara dan bercerita dengan Amy. Tanpa aku sangka, dia adalah gadis tercerdas yang pernah aku ajak bicara. Ia mengutarakan pandangannya mengenai keadaan yang sedang bergulir, tentang penjajahan Belanda kepada Indonesia beratus-ratus tahun, tentang pandangannya tentang hidup. Tidak salah. Langkahku mengajak berkenalan Amy sama sekali tidak salah. Sore itu… aku jatuh cinta.

 

Berbulan-bulan kami melakukan pertemuan terlarang itu. Setiap bertemu adalah momen emas bagiku. Momen yang ditunggu-tunggu dan tak kuinginkan berakhir. Hingga akhirnya aku mengucapkan kata itu… cinta. Ia tersenyum malu dan mengakui adanya ‘perasaan bahagia’ saat disampingku. Ditentang oleh keluarganya, tentu saja. Tentu itu halangan terberat bagi kami. Aku meminta Amy untuk menyerah jika ia memang tak bisa meneruskan ini, Amy tidak mau. “Kita sudah terlalu jauh untuk berjalan kembali ke jalan masing-masing.” Ungkapnya.

 

Dengan segala perjuangan perih, kami tetap berdua walau tidak dengan keadaan bahagia sepenuhnya. Ayahnya mengusir Amy dari rumah. Ibunya berderai air mata ketika melepas kepergian Amy yang juga menangis. Amy tidur di kamar ibuku sekitar satu minggu sebelum akhirnya kami menikah di pertengahan tahun 1941. Ibu Amy terkadang mencuri-curi waktu untuk mengirim makanan atau sekedar menjenguk melepas kerinduan pada anaknya.

 

***

 

Jepang memulai pembersihan penduduk sesaat setelah kami menikah. Ketika itu Jepang masih memberikan pilihan kepada orang-orang Belanda antara pulang ke Negeri nya saat itu juga atau menetap di Indonesia tanpa terjamin keselamatannya. Mereka memilih pulang. Aku berterus terang bahwa kali ini, setelah menikah, aku semakin tidak bisa kehilangan dirinya. Amy juga tidak ingin pulang, sama halnya ia tak bisa kehilangan diriku.

 

Dengan berat hati aku menyepakati perpindahan kami ke kota yang lebih kecil untuk menghindari pembersihan  penduduk oleh Jepang. Kami memilih Ciamis. Kami segera bergegas mengepak barang-barang kami dan pamit kepada orangtuaku. Malam itu kami pergi menggunakan kereta api.

 

Di stasiun tak dinyana orang-orang penuh memadati. Amy sudah berpakaian tertutup dan tidak mencolok. Dan tak dikira pula setiap penumpang yang akan menaiki kereta api di jegal serdadu Jepang untuk diperiksa.

“Aku akan terkena pemeriksaan, Ben.” Bisik Amy panik. Aku berbalik ke belakang, tidak ada orang yang telah masuk stasiun ini yang bisa kembali keluar stasiun tanpa diperiksa. Tidak ada jalan keluar. Aku ikut panik dan berjalan cepat bersama Amy menuju kamar kecil.

“Hey!” sergah seseorang di belakang kami. Rupanya gelagat kami mencurigakan. Serdadu itu dengan cepat menghampiri kami. Ia berteriak dalam bahasa Jepang yang tidak kami mengerti. Tanpa dapat kucegah orang itu menarik kain penutup kepala Amy. Habislah sudah!

“Amy lari!” aku menyeret lengan Amy dan lari pontang-panting. Suasana menjadi tak karuan, teriakan-teriakan para serdadu dan kepanikan orang-orang sekitar kami menjadikan keadaan semakin kacau.

‘DOR!!’ suara letusan senjata  terdengar dari belakang

“Beni!” suara Amy terdengar lemah. Dada Amy perlahan mengeluarkan darah segar. Aku terbelalak.

“Amy!” aku berteriak menahan beban tubuh Amy yang sudah tak bisa bertahan. “Amy, maafkan aku…” aku menyesal…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s