Fire #30HariMenulis Hari ke-8

Ternyata ia belum mati. Aku tak mungkin salah mengingat wajah itu walaupun banyak perubahan telah dilakukan.

 

***

 

Tiga tahun yang lalu.

Aku dan Nasya, adikku, bersembunyi dibalik pintu kamar ketakutan. Ibu dan Ayah sedang bertengkar di ruang tamu saling berteriak mengenai sesuatu yang pasti tidak bisa mereka bicarakan secara baik-baik. Karena sejauh yang aku ingat, mereka tidak pernah bertengkar tentang apapun. Bahkan mereka jarang sekali bicara satu sama lain. Malam itu, kami berdua tidur dikamarku berselimutkan kengerian pertengakaran mereka.

 

Aku Navia 16 tahun kelas 3 SMA. Adikku Nasya 13 tahun kelas 3 SMP. Hanya kami berdua anak-anak Ayah dan Ibu. Keadaan dirumah kami selalu baik-baik saja dan dingin selama ini, sampai aku menyadari bahwa baik-baik saja ternyata tidak selalu baik. Keseharian Ibu selalu sibuk untuk kami. Memasak, membereskan rumah dengan semua detail, menemani kami belajar, dan semua hal yang dilakukan Ibu yang sempurna. Ayahku sibuk dengan pekerjaannya. Itu wajar, bukan? Ayah hampir setiap hari pulang malam. Saat aku terjaga tengah malam karena harus ke kamar mandi, aku hampir selalu mendapati Ayah tidur didepan TV dengan keadaan TV menyala. Aku tak pernah menganggapnya aneh dan tak pernah menanyakan alasannya.

 

Dua hari setelah pertengkaran itu hari Minggu. Ibu pamit padaku dan Nasya pagi-pagi untuk pergi berbelanja ke pasar. Kami mengiyakan. Ayah sedang di halaman belakang membersihkan rumput-rumput liar. Sangat lama waktu berselang, Ibu tak kunjung pulang hingga sore hari. Aku menanyakan keberadaan Ibu pada Ayah walaupun takut-takut, barangkali Ayah mau menjemputnya.

“Iya nanti” jawab Ayah. Aku menyerah, biarkan saja, walaupun aku khawatir.

 

“Kak, ini pasar yang Ibu selalu datengin kan?” tanya Nasya dari ruang tamu. Aku setengah berlari menghampirinya. Aku mendapati headline peristiwa kebakaran di salah satu stasiun TV.

“Astaghfirullah.” Aku terperanjat. “Ayah!!” teriakku. Ayah menghampiri kami terburu-buru “Jemput Ibu sekarang juga!” tangisku pecah seketika.

 

Setelah Ayah pergi, aku benar-benar khawatir walaupun terus mencoba berpikir positive. Nasya tak berhenti menangis. Aku juga ingin menangis, tapi aku harus kuat untuk Nasya. 4 jam saat itu adalah 4 jam terlama yang pernah aku alami. Aku hanya berharap Ayah cepat-cepat datang beserta Ibu yang selamat.

 

“Assalamu alaikum.” Salam Ayah dengan lesu.

“Wa alaikum salam.” Kami segera menghampiri Ayah… tanpa keberadaan Ibu.

“Ibu mana, Yah?” tanyaku pelan. Suaraku bergetar.

“Ayah ga bisa nemuin Ibu.” Jawabnya lesu. Aku dan Nasya langsung menangis tak terkendali. Ayah mencoba menenangkan kami walaupun ia pasti sama berdukanya dengan kami. Atau bahkan mungkin lebih parah.

“Memangnya ada berapa korban? Semua hangus? Tidak bisa dicari lagi?” tanyaku lagi bertubi-tubi.

“Evakuasi masih dilakukan. Semuanya hangus. Besok Ayah cari lagi kesana.” Kami tenggelam dalam tangis kami dipelukan Ayah. Aku tak bisa menanggung kejadian seperih ini…

 

***

 

Tiga tahun berselang.

Dari remaja 16 tahun yang sedang sibuk dengan sekolahnya, aku mendadak merangkap posisi sebagai pelajar dan anak rumah tangga. Aku yang mengambil alih pekerjaan Ibu selama beliau masih hidup. Tak bisa lagi aku mengikuti acara-acara nongkrong bersama teman, berorganisasi atau bahkan hanya untuk belajar bersama. Lagipula Nasya juga sangat membutuhkan aku. Ia anak yang pendiam, dengan kepergian Ibu, ia semakin diam. Satu-satunya orang yang ingin ia ajak bicara hanya aku. Ia tak bisa terbuka pada orang lain.

 

Selain sekolah, kesibukanku (sangat) bertambah. Aku memasak, mencuci, menyetrika, membereskan rumah, menyapu, mengepel, mencuci piring, menggosok kamar mandi dan lain sebagainya. Aku berusaha sekuat mungkin agar meninggalnya Ibu tidak berpengaruh pada kehidupan Ayah dan Nasya, tak usahlah mereka menanggung duka dan pekerjaan rumah sekaligus.

 

Ya, Ibu meninggal. Tidak pasti, tidak ada jenazah. Tapi Ayah sudah melakukan upaya apapun untuk menemukan Ibu tanpa pernah berhasil. Ayah berbicara pada kami seperti memperlakukan orang dewasa. Dengan sangat bijaksana dan hati-hati Ayah meminta kami untuk mengikhlaskan kepergian Ibu yang meninggal walaupun tak ada wujudnya. Tanpa ada makam untuk kami ziarahi.

 

“Ibu selalu ada di hati kalian. Berdoalah untuk Ibu setiap saat.” Nasihat Ayah. Berat sekali menerimanya.

Aku tak mampu berkata-kata. Semua kepedihan hanya tersekat di ujung tenggorokanku tertahan tangis. Ada sebuah lubang besar, hitam, dalam dan menyakitkan dihatiku. Aku ikhlas melakukan segala hal yang dulunya menjadi kegiatan Ibu. Tapi aku hanya minta kembalikan Ibu padaku. Pada kami.

 

Setiap kali aku mengingat Ibu, setiap kali itu pula aku menangis. Aku selalu bangun dari tidur  yang tidak tentram dengan harapan Ibu sedang mengamatiku yang sedang tidur diujung ranjang, seperti yang sering ia lakukan dulu. Atau aku membuka pintu kamar dan Ibu sudah siap memelukku dengan pelukan hangatnya yang penuh kerinduan. Atau juga Ibu sedang malas-malasan di depan TV dan lalu menyuruhku membereskan seluruh rumah. Apapun! Apapun akan kulakukan demi Ibu kembali.

 

Itu tak akan pernah terjadi. Aku tahu. Harapanku hanya sedikit ide untuk dijadikan alasan untukku bangun di pagi hari setiap harinya. Bukan berakhir di kamar mandi dengan genangan darahku sendiri karena aku merasa aku tak mampu lagi bertahan. Tanpa Ibu.

 

Dulu saat aku berumur lebih muda, Ibu sering mengatakan

‘Kakak, kalau Ibu meninggal, kakak baik-baik ya. Jagain Ayah sama Nasya.’

‘Ngga. Kakak mau ikutan meninggal sama Ibu. Biar sama-sama terus.’ Itu yang selalu kujadikan jawaban. Secinta itu aku pada Ibu hingga aku tak mampu kehilangannya.

 

***

 

Aku sembilan belas tahun sekarang. Tiga tahun bergulir sejak kepergian Ibu.

Tidak ada yang menemaniku dengan setia kecuali kehampaan.

 

Suatu waktu aku harus pergi ke kota sebelah untuk mengikuti training pekerjaan. Di stasiun kereta api yang terang benderang aku duduk di kursi tunggu yang dingin dan keras. Mataku tertuju dan terpaku pada seorang wanita yang mirip sekali dengan Ibu. Ia menggunakan baju tipis licin berwarna salem yang anggun dengan celana panjang putih. Rambutnya diikat rapi dan ia membawa sebuah tas yang senada dengan bajunya. Ia berdiri dibelakang garis kuning seakan tak sabar untuk menaiki kereta yang sedang melambat dari lajunya untuk berhenti lalu dinaiki para penumpang.

 

Aku berdiri berjalan bermaksud memandang lebih dekat. Aku sampai beberapa meter berdiri di sampingnya hingga aku dapat menatap lebih puas. Ia terlihat segar. Ingin sekali aku mengajak wanita itu berkenalan. Aku tak bisa melepaskan pandangan mataku pada wanita itu. Sampai secara tak sengaja ia menoleh ke kiri. Ke arah ku.

Tunggu.

Itu Ibu…

Itu jelas-jelas Ibuku.

 

Semua pergerakan di sekitarku seakan menjadi semakin cepat sementara detak jantungku melemah. Ratusan momen sedih yang kulalui tanpa kehadiran Ibu seakan terputar kembali dalam bayanganku. Ribuan tetes air mata dalam doa yang kutujukan pada Ibu seperti menguap dan menjadi wujud Ibu di hadapanku ini. Jutaan cerita yang sangat ingin kubagi dengan Ibu melayang-layang di udara hampa antara beberapa meter jarak kami.

 

Ibu terdiam menatapku tanpa melakukan apapun, tanpa ekspresi apapun. Aku shock dan hancur berkeping-keping siap untuk lenyap saat itu juga. Airmataku berderai-derai tak terkendali.

 

Aku… tidak memerlukan penjelasan apapun. Aku tidak mendendam. Hanya saja hatiku retak, sakit sekali. Aku hanya tak habis pikir Ibu rela meninggalkanku, meninggalkan kami. Begitu saja.

fire.jpg

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s