Momen Pelatihan Diri #30HariMenulis Hari ke-7

Ini adalah hari kedua di bulan Ramadhan. Sejujurnya, saya happy bisa bertemu dengan Ramadhan, tapi tahun ini saya tidak terlalu siap menghadapinya. Mungkin karena 1 Ramadhan jatuh pada awal-awal bulan Juni, jadi diakhir Mei saya masih ngga ngeh sudah mendekati bulan Ramadhan. Atau mungkin simple-nya saya memang tidak siap secara spriritual. Akhir-akhir ini saya seperti kehilangan banyak momen berdialog dengan Tuhan, saya akui. Tapi Allah memang Maha Baik. Kapanpun hamba-Nya mendekat, Allah akan merangkul. So, here I am berjalan mendekat berharap elusan lembut-Nya dikepalaku yang sedang tertunduk malu dan lesu…

 

Bagi saya Ramadhan adalah 30 hari dalam gelembung lembut dan kuat berisi rahmat Allah. Saya selalu merasa terlindungi. Bulan ini adalah bulan perjuangan untuk meraih kemenangan. Perjuangan berkali lipat, begitupun dengan pahala yang didapat. Disaat sekarang ini ujian biasanya terasa lebih berat dari bulan biasa. Hati lebih sensitif. Sangkaan lebih banyak bersu’udzon. Amarah lebih cepat memuncak. Jika tidak pintar-pintar memposisikan pikiran dan mengendalikan emosi, mungkin seharian puasa hanya akan dapat rasa laparnya saja. Saya pun masih sangat belajar mengerem hawa nafsu. Dan God, setiap hari adalah memang benar, perjuangan.

 

Satu hal yang sangat saya sukai di bulan suci ini adalah ibadah shalat Tarawih. Untuk saya sebagai perempuan yang tidak mempunyai kewajiban seminggu sekali mengunjungi masjid seperti laki-laki yang harus shalat Jum’at, tarawih yang biasanya dilakukan berjamaah di masjid ini adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu. Saya suka berjajar diantara shaf ibu-ibu melakukan gerakan shalat bersama-sama tapi mempunyai ikatan dengan Allah secara berbeda-beda. Berdiri diantara jamaah lain, entah bagaimana, bisa semakin menguatkan saya secara spiritual. Semakin merasakan keberadaan Allah lebih dekat didalam saya.

 

Ramadhan seperti guyuran air segar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Membersihkan dan menyegarkan lahir batin yang mungkin tandus dari siraman rohani. Pada akhirnya, saya rasa semua kebiasaan baik di bulan Ramadhan tidak harus berhenti ketika Ramadhan juga berakhir. Bukankah momen Ramadhan ini adalah momen melatih diri dalam satu bulan lamanya agar melakukan segala hal baik akan menjadi kebiasaan dan setelan otomatis, bukan musiman.

 

ramadan_mubarak-1514849.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s