d.u.a #30HariMenulis Hari ke-6

Ini ketiga kalinya saya merubah topik yang akan dibahas untuk tema hari ini yang harus berhubungan dengan tanggal lahir. Cakupan pilihan tema sebenarnya luas, bahkan luas sekali. Tapi dari sini saya baru belajar bahwa sesuatu yang terlalu luas juga ternyata bisa membuat saya tersesat jika tujuan saya tidak pasti, jika saya tidak tahu harus mengambil arah yang mana. Gosh, kenapa ini berasa sulit? Hehe

 

Liat tema ini sebenarnya saya jadi bingung. Karena tanggal lahir saya simple aja gitu; DUA. Tapi pasti semua akan galau juga sih, 2 terlalu sedikit, 29 terlalu banyak. Kalau dibuat cerita 2 sifat buruk saya, kayaknya aman banget hidup saya cuma punya 2 sifat buruk. Kalau dibuat cerita 2 sifat baik saya, kayaknya minim banget ya kebaikan saya. Ah serba salah jadinya.

 

Mungkin saya akan bahas tentang hal random aja tentang apa-apa yang berhubungan dengan angka 2, bisa meureun?

 

Saya suka angka 2. Saya suka menjadi yang terdepan, tapi tidak terlalu depan. Misalnya ketika memilih tempat duduk di kelas, di seminar, di ruang meeting, saya cenderung ambil kursi urutan kedua. Bahkan untuk ranking pun saya malah lebih suka jadi ranking 2, aneh juga ya. Kalau masalah urut-berurutan kayak gini, alasan lebih suka jadi yang kedua karena urutan pertama seringkali dijadikan ‘tumbal’, yang paling terlihat dan mencolok juga yang sering paling ditanyain.

“Disini yang ranking 1 siapa? Coba tolong jelaskan pertemuan kemarin kita bahas apa?”

See? Yang ranking 2 mah aman (kecuali kalau yang ranking 1 lagi ngga masuk :p)

Tapiii… saya jelas menolak kalau harus dijadikan pasangan kedua. Hih!

 

Oke, tanggal 2 memang awal bulan, dan kalau tidak jatuh di hari Minggu saya tidak bisa mengelak dari permintaan traktir. Ga bisa tuh mengeluarkan jurus tolakan ‘belum gajian’, lah jelas-jelas baru kemarin! Hahaha…

 

Beberapa hari kemarin saya mengajukan sebuah pertanyaan di status saya pada sebuah medsos. Saya hanya bilang “Ada berapa kemungkinan?” tanpa pembukaan, penutupan atau perpanjangan kalimat. Tanpa mereka tahu saya sedang membicarakan apa. Semua yang merespon bilang 2. Salah empat contohnya :

“2. Iya atau ngga.”

“Kemungkinan selalu ada dua”

“Yang kamu inginkan dan yang tidak kamu inginkan. Tinggal pilih.”

“Take it or leave it.”

Tidakkah itu menarik?

 

Apa yang saya tulis kemarin sebagai status sebenarnya tentang kegalauan saya. Saya merasa sedang diam ditempat yang salah. Memutuskan keputusan yang tidak memuaskan. Membawa diri saya ke tempat yang tidak berarah. Saya posting pertanyaan itu karena ingin tahu pandangan orang lain mengenai kemungkinan, yang bagi saya saat itu di depan mata hanya blur. Dan tentu saja di setiap situasi kemungkinannya selalu ada dua.

 

Rumi once said ‘Life is a balance of holding on and letting go.’

dua kemungkinan.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s