The Baby Sitter #30HariMenulis Hari ke-5

Untuk pemenuhan tema hari ini, pagi-pagi saya sudah scrolling-down portal berita yang berlogo oval ungu bertanda seru. Saya banyak mengabaikan headlines berita dari berbagai topik utama. Topik olahraga? No chance, karena saya tidak menggeluti bidang olahraga manapun. Topik selebriti? Apa harus saya ikut-ikutan bahas Taylor Swift yang setiap putus cinta langsung bikin lagu buat nyindir mantan? (walaupun saya akui lagunya easy listening dan gampang diinget sih). Topik kriminal? Hmm… headline-headline dalam kelompok ini kadang ganggu banget sih. Tapi kemudian saya memang berhenti di berita penganiayaan bayi oleh pengasuhnya.

 

Ini memang bukan berita baru, sudah ada di headline sekitar satu minggu, tapi ini saja yang akan saya bahas. Kali ini, berita yang saya baca adalah seorang perempuan berusia 23 tahun yang menganiaya bayi yang baru 11 bulan. Yang saya baca, penganiayaan yang dilakukan adalah pengasuh itu mendorong sang bayi dan kemudian ada juga kabar bahwa anak itu dibanting. Sebenarnya ada video CCTV yang di-publish ibu dari korban tersebut di Facebook, hanya saja saya tidak merasa harus mencari post itu dan menontonnya atas nama penasaran. Biarkan saja kengerian saya tidak terwujud secara visual yang mungkin bisa jadi malah lebih parah realisasinya.

 

Berkaitan dengan berita tersebut, akhir-akhir ini saya sedang gemar menonton acara semacam reality show dari AS dengan host John Quinones bertajuk ‘What Would You Do?’. Show ini melibatkan cast yang tidak terkenal dan contoh kasus yang sudah di-setting. Prakteknya biasanya dilakukan di muka umum agar mereka (acara ini) bisa menangkap respon reflek orang-orang ketika contoh kasus dimainkan/dilakukan.

 

Contoh kasusnya bermacam-macam dan melibatkan berbagai kalangan, dari anak kecil hingga orangtua, dari homeless sampai sosialita. Topik yang diangkat biasanya isu masyarakat di kehidupan sehari-hari yang banyak menuai pro dan kontra. Kebanyakan contoh kasus yang dilangsungkan adalah perbuatan-perbuatan yang salah. Tujuan dari tes kasus ini untuk mengetahui seberapa peka orang-orang akan merespon pada hal salah yang ia saksikan secara langsung.

 

Suatu hari saya sampai ke episode ‘nanny’s authority turns nasty’ dimana skenarionya memasangkan seorang nanny / baby sitter / pengasuh dengan dua orang anak kecil yang sedang diasuhnya. Volume suara nanny sengaja dibuat berteriak agar menarik perhatian orang-orang. Ceritanya nanny sedang lembur menunggu orangtua anak-anak itu pulang dari suatu acara.

 

“You spoil little brat, you’re so annoying and I wish I have different kids to taking care of!” begitu sang nanny ngamuk-ngamuk. Teriakan itu sudah cukup membuat orang-orang menoleh. Lalu nanny mulai berulah dengan menjatuhkan crayon-crayon yang sedang dipakai anak-anak itu “Pick it up!” perintahnya.

Dalam satu hari beberapa kali studi kasus itu dijalankan, tim WWYD berhasil menangkap respon orang-orang asing. Ada yang hanya berjalan begitu saja tanpa respon apapun. Ada yang melakukan pendekatan dengan ramah menawarkan diri untuk menggantikan tugas si nanny. Ada yang langsung menelpon saluran siaga 911. Ada yang terpancing emosi dan memarahi nanny menyuruhnya untuk diam, dan lain-lain. Yang lebih menyebalkannya, nanny yang sudah ditegur malah selalu punya jawaban untuk membantah respon si orang asing.

 

Dari sekian banyak respon, setelah “ditangkap” host dan diberitahu bahwa scene tadi hanyalah bagian dari skenario, respon baru mereka juga bermacam-macam. Sebagian mengungkapkan bahwa lega karena itu hanya skenario, sebagian lain semakin terbawa emosi dan tak jarang sampai menangis. Most of all, mereka memilih untuk terlibat dalam situasi child abuse itu karena mereka merasa sudah seharusnya mereka turut campur. Jika perlakuan tersebut dilakukan di muka umum, maka itu sudah jadi bagian dari kepentingan umum.

 

Setelah perenungan berita nyata dan skenario studi kasus tersebut, saya berpikir bahwa pekerjaan sebagai baby sitter memang tidak mudah. Mengurus anak orang lain yang bisa jadi rewel, berisik, tidak mau diam dan lain-lain memang menyebalkan, saya mengerti. Tapi saat seseorang memutuskan untuk menawarkan jasa menjadi pengasuh anak orang lain, maka bertanggung jawablah dengan itu. Sebenarnya konsepnya hanya sesederhana itu.

 

Tidak hanya orangtua yang akan terpukul ketika mengetahui anaknya diperlakukan sangat buruk oleh orang yang dipercaya. Juga bukan hanya fisik yang akan terluka. Tapi psikologis anak yang juga akan terkena dampak. Memori anak sangatlah unik. Mereka bisa tidak mengingat apa yang berkali-kali diajarkan, dan mereka juga bisa mengingat dengan sangat lekat kejadian yang seharusnya tidak diingat. Jika sudah membekas, trauma yang tertanam tidak akan pernah bisa dihapus. Dan bisa sangat mungkin trauma yang dialami si anak akan berpengaruh pada kelangsungan hidupnya.

 

So, ini kemudian seharusnya menjadi perhatian yang lebih diutamakan. Terutama orangtua sebagai pengguna jasa, agen baby sitter dan baby sitter itu sendiri. Sudahlah, tak usah  ada kekerasan-kekerasan macam ini lagi. Makhluk kecil yang tak berdaya dan berisik itu manusia juga. Jika dalih sang pelaku karena sedang mengalami masalah lalu merasa ingin melampisakannya, pergilah benturkan dahimu ke tembok ranginan. I mean, seriously, THINK!

IMG_20160605_083417.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s